Senin, 01 Agustus 2011

Kabut asap, warga terserang ISPA

MONDAY, 13 JUNE 2011 21:05

JEURAM - Puluhan masyarakat di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, mulai terserang penyakit infeksi saluran pernafasan (Ispa) sehubungan dengan meluas dan meningkatnya kabut asap di wilayah itu, akibat pembakaran lahan yang kini masih terus terjadi.

Pj Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya, Tien Saniatin, mengatakan, penyerangan penyakit infeksi saluran pernafasan yang dialami oleh sebagian besar masyarakat di Kecamatan Darul Makmur itu, akibat pembakaran yang selama ini terjadi.

Menurutnya, penyakit Ispa yang kini terjadi bagi masyarakat itu belum dalam tahap yang mengkhawatirkan, karena masih dalam kategori biasa dan masih mampu ditangani oleh petugas medis yang berada di Puskesmas, guna diberikan obat-obatan serta bentuk penanganan lainnya.

Gejala yang ditimbulkan dari penyakit Ispa itu bagi kalangan masyarakat, kata Tien Saniatin, seperti gangguan tenggorokan, sulit bernafas, batuk, serta gejala gangguan lainnya. Namun setelah diberikan obat-obatan, pasien yang berobat itu langsung diperbolehkan pulang ke rumah guna dilakukan rawat jalan.

Sumber Waspada.co.id

Kebakaran Hutan Meluas

TUESDAY, 07 JUNE 2011 09:44

NAGAN RAYA- Akibat terbakarnya hutan kabut asap kembali terjadi di Kab. Nagan Raya. Dari pengamatan, hutan yang terbakar di wilayah Tripa dan Beutong yang membuat pengendara roda dua dan pejalan kaki harus berhati- hati, kabut asap sudah terjadi sejak 4 hari lalu.

Menurut keterangan, hutan lindung itu sengaja dibakar oleh pihak- pihak yang tidak mau bertangung jawab.Masyarakat minta pihak terkait terutama kehutanan untuk menjaga hutan lindung jangan sampai punah. ’’Kami minta Pemkab Nagan Raya dan Kepala Dinas Kehutanan mencegah pelaku pembakar hutan itu,” ungkap M. Kasem.

Sementara Kadis Perkebunan dan Kehutanan, Zainal Abidi, mengatakan pihaknya belum mengecek ke lokasi. “Bisa jadi akibat cuaca kemarau dan itu kadang- kadang menyebabkan keadaan panas jadi cepat dan mudahnya hutan terbakar. Kita perintahkan setiap pos Polhut menjaga dan mengecek dengan benar supaya apa yang masyarakat laporkan bisa benar- benar diatasi", ujarnya.

Sumber Waspada.co.id

Selasa, 26 Juli 2011

Gangguan Gajah Resahkan Warga Jeuram

Mon, May 23rd 2011, 08:17

JEURAM - Masyarakat beberapa desa di Kecamatan Seunagan, Jeuram, Kabupaten Nagan Raya resah dengan seringnya kawanan gajah liar turun ke pemukiman warga di wilayah itu. Pasalnya, kawanan gajah yang berjumlah empat hingga lima ekor itu kerap merusak tanaman dan perkebunan warga sehingga menyebabkan kerugian harta benda.

Camat Seunagan, Agusdi SSos kepada Serambi, Minggu (22/5) di Jeuram mengatakan, gangguan gajah liar yang selama ini turun dari kawasan hutan itu semakin sulit dicegah. Selain jumlahnya tergolong banyak, satwa dilindungi itu juga kerap menyebabkan harta benda milik masyarakat dirusak setiap kali turun ke pemukiman masyarakat. “Gangguan gajah itu, telah menyebabkan puluhan hektare lahan pertanian dan perkebunan milik masyarakat rusak,” kata Camat Agusdi.

Ia mengatakan, meski pihaknya telah berulang kali melaporkan kasus itu kepada Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh supaya mengatasi gangguan gajah liar itu, akan tetapi hingga kini pihak terkait sama sekali belum memberikan respons terhadap keluhan masyarakat tersebut. “Kita berharap BKSDA segera turun ke Senagan untuk membantu mengusir hewan uitu dari pemukiman warga,” kata Camat Agusdi.(edi)

Sumber Serambinews.com

Senin, 27 Juni 2011

Pertahankan Adat, 15 Warga Terasing Enggan Turun

Wed, May 4th 2011, 14:42

JEURAM - Sebanyak 15 orang masyarakat terasing hingga kini masih bertahan di kawasan pedalaman Gunong Kong dan enggan turun untuk bergabung ke pemukiman masyarakat lainnya di pemukiman baru di Desa Alue Waki, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya.
Pasalnya, enggannya belasan warga yang tak ingin turun gunung itu guna mempertahankan adat istiadat lama di kawasan mereka, termasuk faktor usia yang tak memungkinkan untuk turun ke kawasan masyarakat dikarenakan faktor usia. Mengingat belasan masyarakat terasing yang kini masih bertahan di gunung itu rata-rata telah berusia lanjut dengan kisaran umur mencapai 80 tahun hingga lebih.
Camat Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Effendi kepada Serambinews.com, Rabu (4/5/2011), mengatakan, masih bertahannya belasan masyarakat itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya untuk mempertahankan kehidupan tradisional yang selama ini telah dilakoni selama puluhan tahun di kawasan pedalaman tersebut.
Apalagi di lokasi yang sangat jauh dan terisolir di Gunong Kong itu, kata Camat Hamidi, masyarakat yang telah lama menempati kawasan itu memang memiliki rumah sendiri dan lahan pertanian untuk bercocok tanam. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat memang telah memiliki ketersediaan pangan untuk mempertahankan hidup.(dedi iskandar)

Sumber : Serambinews.com

Minggu, 26 Juni 2011

276 Jiwa Masyarakat Gunong Kong Huni Pemukiman Baru Setelah Puluhan Tahun Terasing di Pergunungan

Tue, May 3rd 2011, 15:12
276 Jiwa Masyarakat Gunong Kong Huni Pemukiman Baru
Setelah Puluhan Tahun Terasing di Pergunungan,
Laporan: Dedi Iskandar, Serambinews.com - Nagan Raya

SEKIAN puluhan tahun terasing, akhirnya 276 jiwa masyarakat Desa Gunong Kong, menempati pemukiman baru. Warga yang masuk dalam Kemukiman Alue Waki, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya itu, sebelumnya menjadi masyarakat terasing. Mereka terisolasi di pergunungan puluhan tahun

Mereka hidup secara alamiah dengan pola tradisional--seakan terpisah dari dunia luar. Namun, setelah mulai menempati pemukiman baru di wilayah pedalaman tersebut, kata Bupati Nagan Raya, HT Zulkarnaini, kehidupan mereka mulai berubah. Masyarakat yang dikenal sebagai kelompok TR Tampok itu, telah hidup di rimba belantara sejak mereka melakukan perlawanan terhadap Belanda.

TR Tampok merupakan pimpinan yang terkenal dari perlawanan kala itu. Dia seorang pejuang yang dikenal kebal itu dan tanpa henti bergerilya melawan Belanda. Dan sekitar tahun 1935 saat putranya lahir bernama T Bentara Keumangan, yang populer dengan nama T Raja Ubit. Sejak itu mereka memutuskan hubungan dengan dunia luar, dan hidup secara alamiah di pergunungan Kong.

Kepada Serambinews.com, Selasa (3/5), Bupati Ht Zulkarnaini, mengatakan keberaadaan masyarakat Gunong Kong yang selama ini hidup terasing di wilayah pegunungan itu telah jauh berubah dan telah mengikuti pola hidup moderen. Mereka sudah berbaur dengan masyarakat lainnya dari pemukiman.Pemerintah pun memberi perhatian khusus, apalagi sudah terbuka akses jalan ke wilayah itu.

"Saat ini mulai berdaptasi dan mengikuti pola hidup masyarakat lainnya. "Sehingga kehidupan masyarakat di wilayah itu kini telah berjalan dengan baik," jar bupati Nagan Raya.

Dikatakan, sebelum pindah ke pemukiman baru, jika ingin bertemu dengan masyarakat Gunung Kong, harus menempu perjalanan selama dua hari berjalan kaki. Namun saat ini hanya hanya dalam hitungan jam, sudah sampai di wilayah tersebut.

Dengan menempati pemukiman baru itu, kata Bupati Nagan, maka tidak ada lagi wilayah terisolasi di kabupaten tersebut. Pemkab juga akan memberi akses dan hak yang sama dalam berbagai hal sebagaimana masyarakat di kemukiman lain dalam wilayah Nagan Raya.(*)

Sumber : Serambinews.com

Jumat, 24 Juni 2011

Nagan Raya Banjir 1,5 Meter, Belasan Ribu Warga Terkurung

Sat, Apr 30th 2011, 17:09
Laporan Dedi Iskandar, Serambinews.com - Nagan Raya

JEURAM - Nagan Raya diterjang banjir. Hinga Sabtu (30/4) air masih tergenang setinggi 1,5 meter. Akibatnya sebanyak 320 jiwa masyarakat pedalaman di Desa Kuala Seumayam, Kecamatan Darul Makmur, terkeping.

Banjir akibat hujan yang mengguyur wilayah itu dalam beberapa hari ini, telah mengisolasi masyarakat. Sebagian warga sudah diungsikan ke tempat yang lebih aman dikarenakan air terus.

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Nagan Raya, Drs Abdurrani Cut kepada Serambinew.com, kemarin sore mengatakan volume air terus naik, sehingga mengepung pemukiman warga di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Nagan. “Kami telah berupaya menembus lokasi banjir menggunakan kenderaan, akan tetapi lokasinya sangat sulit ditembus karena tingginya air, sehingga kami bersama tim relawan kemanusiaan terpaksa menempuh cara lain yakni menggunakan speed boat,” kata Abdurrani.

Timnya, sebut Kadis Sosial itu, menggunakan Speed Boat mengarungi sungai guna menuju ke pemukiman warga. Mereka menyalurkan bantuan makanan masa panik. "Kita juga telah memobilisasi tenda pengungsian serta berbagai kebutuhan masyarakat lainnya, sehingga diharapkan warga yang terkurung itu tak mengalami kelaparan," ujarnya.

Dikatakan, sejauh ini belum ada korban jiwa. “Kami belum bisa memastikan apakah air ini akan surut, karena sejauh ini mendung masih terjadi di Nagan Raya dan masih berpotensi hujan lebat,” ujar Abdurrani.


Sumber : Serambinews.com

Selasa, 21 Juni 2011

Pengrusakan Rawa Tripa Sulit Dibendung

Tue, Apr 19th 2011, 09:39
Tapal Batas Hutan Lindung belum Jelas

JEURAM-Aksi perambahan hutan lindung dan perusakan lahan rawa tripa yang masuk dalam Kawan Ekosistem Leuser (KEL) di Kabupaten Nagan Raya terus terjadi. Akibatnya, luas hutan lindung di wilayah itu terus berkurang.

Bupati Nagan Raya, Drs HT Zulkarnaini kepada Serambi, Senin (18/4) kemarin mengaku sangat resah dengan hal itu. Pasalnya, perambahan hutan lindung dan perusakan areal Rawa Tripa sangat sulit untuk dibendung maupun dicegah. Karena, katanya, tapal batas yang menentukan areal hutan lindung dengan hutan rakyat serta kawasan ekosistem leuser Rawa Tripa, hingga kini belum jelas.

“Yang ada cuma batas seperti gapura saja, sedangkan batasan tertentu seperti batas-batas lazimnya sebuah areal pertanahan atau sebuah kawasan itu hingga kini belum ada, sehingga banyak tak diketahui oleh masyarakat termasuk pemerintah,” katanya kecewa.

Akibatnya, ketika ditemukan adanya perambahan hutan yang disalahkan dan dipojokkan adalam Pemkab Nagan Raya. Padahal, kata Bupati Drs HT Zulkarnaini, pihaknya selaku pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin menjaga kawasan hutan lindung dan Rawa Tripa.

Ia berharap pihak yang terkait dengan hutan lindung agar dalah perambahan hutan lindung jangan pemkab saja yang disalahkan tetapi semua pihak yang tak jelas menetapkan areal batas. “Pemerintah harus segera memperjelas batas kedua lahan ini (Rawa Tripa dan Hutan Lindung-red),” pintanya berulang-ulang. (edi)

Sumber : Serambinews.com