Sat, Apr 30th 2011, 17:09
Laporan Dedi Iskandar, Serambinews.com - Nagan Raya
JEURAM - Nagan Raya diterjang banjir. Hinga Sabtu (30/4) air masih tergenang setinggi 1,5 meter. Akibatnya sebanyak 320 jiwa masyarakat pedalaman di Desa Kuala Seumayam, Kecamatan Darul Makmur, terkeping.
Banjir akibat hujan yang mengguyur wilayah itu dalam beberapa hari ini, telah mengisolasi masyarakat. Sebagian warga sudah diungsikan ke tempat yang lebih aman dikarenakan air terus.
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Nagan Raya, Drs Abdurrani Cut kepada Serambinew.com, kemarin sore mengatakan volume air terus naik, sehingga mengepung pemukiman warga di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Nagan. “Kami telah berupaya menembus lokasi banjir menggunakan kenderaan, akan tetapi lokasinya sangat sulit ditembus karena tingginya air, sehingga kami bersama tim relawan kemanusiaan terpaksa menempuh cara lain yakni menggunakan speed boat,” kata Abdurrani.
Timnya, sebut Kadis Sosial itu, menggunakan Speed Boat mengarungi sungai guna menuju ke pemukiman warga. Mereka menyalurkan bantuan makanan masa panik. "Kita juga telah memobilisasi tenda pengungsian serta berbagai kebutuhan masyarakat lainnya, sehingga diharapkan warga yang terkurung itu tak mengalami kelaparan," ujarnya.
Dikatakan, sejauh ini belum ada korban jiwa. “Kami belum bisa memastikan apakah air ini akan surut, karena sejauh ini mendung masih terjadi di Nagan Raya dan masih berpotensi hujan lebat,” ujar Abdurrani.
Sumber : Serambinews.com
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 Juni 2011
Kamis, 09 Juni 2011
Lintas Jeuram-Takengon Putus Total
* Puncak Singgah Mata Longsor
Wed, Apr 13th 2011, 10:58

Sejumlah warga terpaksa berhenti di ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram-Takengon kawasan puncak pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya. Hingga Selasa (12/4) kemarin ruas jalan di kawasan pegunungan itu masih sulit dilintasi akibat longsor gunung yang terus terjadi. SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram-Takengon, tepatnya di kawasan puncak Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Selasa (12/4) kemarin siang dilaporkan putus total. Ini karena, jatuhnya bongkahan batu besar dari area puncak gunung ke badan jalan, ditambah parahnya longsor tebing gunung ke jalan yang dilintasi banyak pengendara itu.
Akibatnya, puluhan kendaraan yang melintas di jalur itu terhalang batu besar dana terjebak longsor, sehingga harus berbalik arah. Bila paginya masih ada sebagian kendaraan yang terpaksa ditarik ke seberang titik longsor, tapi siang hingga sore kemarin tidak satu pun lagi kendaraan bisa melintas, karena terhalang bongkahan batu besar yang jatuh ke badan jalan. Belum lagi lumpur tebal masih menjadi kendala akibat derasnya guyuran hujan.
Tak hanya itu, tiga titik longsor kemarin bertambah lagi di ruas jalan provinsi itu, tepatnya di kawasan Beutong Ateuh Banggalang. Ini mengharuskan puluhan warga kerja bakti untuk membersihkan pasir dan batu gunung yang memenuhi badan jalan dan telah menjebak para pengguna jalan yang berlalu lalang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Bina Marga Nagan Raya, HT Narensyah yang menghubungi Serambi, Senin sore, melaporkan, longsor di puncak Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong itu kini makin parah. Pasalnya, material pasir dan batu gunung di kawasan itu terus luruh, sehingga menimbun badan jalan.
Apalagi menjelang sore, bongkahan batu besar dari area puncak gunung luruh ke badan jalan. Derita warga dan pengguna jalan di kawasan itu semakin lengkap, karena hujan deras terus mengguyur kawasan pegunungan itu, sehingga material longsor yang memenuhi badan jalan sangat sulit untuk dipindahkan ke sisi jalan. “Longsornya terus terjadi. Pemkab Nagan Raya tak mampu mengatasi hal ini, karena alat yang kami miliki sangat terbatas,” katanya.
Ia deskripsikan, material longsor itu terus berjatuhan ke badan jalan saat diguyur hujan lebat. Dalam pada itu, ketika tanah yang memenuhi badan jalan itu berhasil dipindahkan, material lainnya pun ikut luruh sehingga harus dilakukan pencegahan serius agar kondisi jalan tidak semakin parah.
Tambah tiga titik
Di sisi lain, kata Narensyah, longsor yang terjadi di lintasan Jeuram-Takengon itu kini bertambah tiga titik lagi di kawasan Beutong Ateuh Banggalang. Akibatnya, puluhan warga setempat terpaksa dikerahkan bergotong royong untuk membersihkan material longsor yang ikut menjebak para pengguna jalan.
Apalagi kondisi jalan yang mengalami longsor itu, katanya, saat ini hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat berbadan kecil. “Secara umum sangat kecil kemungkinan untuk menerobos longsor tersebut karena tak ada celah untuk bisa melintasinya,” kata Narensyah.
Oleh karenanya, Plt Kepala Dinas Bina Marga Nagan Raya itu meminta kepada Gubernur Aceh supaya segera menurunkan tim ke kawasan Singgah Mata guna mengatasi longsor yang terus terjadi. Soalnya, hingga kini Pemkab Nagan Raya tak mampu mengatasi masalah itu lantaran terbatasnya alat berat yang dimiliki, di samping bukan tanggung jawab pemkab setempat memperbaikinya, mengingat ruas jalan itu berstatus jalan provinsi.
Ikut terjebak
Narensyah menambahkan, sejak Senin hingga Selasa (11-12/4) kemarin puluhan kendaraan roda empat yang melintas di rute Jeuram-Takengon ikut terjebak longsor dan terpaksa harus kembali ke tempat pemberangkatannya. Ini karena, badan jalan yang berada di kawasan itu sangat sulit dilintasi akibat tertimbun longsor dan menyebabkan antrean panjang.
Apalagi sejumlah kendaraan ikut terjebak lumpur sehingga terpaksa ditarik menggunakan kendaraan lain. Bahkan rombongan Bupati Nagan Raya, Drs HT Zulkarnaini yang kembali dari Beutong Ateuh Banggalang ikut terjebak longsor, namun berhasil diatasi sepihak oleh anggota rombongan.
Zulkifli, pengguna jalan di lintasan yang kini bermasalah itu, kepada Serambi kemarin mengakui, longsor yang terjadi di Pegunungan Singgah Mata itu makin parah kondisinya. Ia juga minta kepada Pemerintah Aceh supaya segera mengatasi persoalan itu sebelum jalur itu putus dan mengisolasi ribuan masyarakat Beutong Ateuh. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Wed, Apr 13th 2011, 10:58

Sejumlah warga terpaksa berhenti di ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram-Takengon kawasan puncak pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya. Hingga Selasa (12/4) kemarin ruas jalan di kawasan pegunungan itu masih sulit dilintasi akibat longsor gunung yang terus terjadi. SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram-Takengon, tepatnya di kawasan puncak Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Selasa (12/4) kemarin siang dilaporkan putus total. Ini karena, jatuhnya bongkahan batu besar dari area puncak gunung ke badan jalan, ditambah parahnya longsor tebing gunung ke jalan yang dilintasi banyak pengendara itu.
Akibatnya, puluhan kendaraan yang melintas di jalur itu terhalang batu besar dana terjebak longsor, sehingga harus berbalik arah. Bila paginya masih ada sebagian kendaraan yang terpaksa ditarik ke seberang titik longsor, tapi siang hingga sore kemarin tidak satu pun lagi kendaraan bisa melintas, karena terhalang bongkahan batu besar yang jatuh ke badan jalan. Belum lagi lumpur tebal masih menjadi kendala akibat derasnya guyuran hujan.
Tak hanya itu, tiga titik longsor kemarin bertambah lagi di ruas jalan provinsi itu, tepatnya di kawasan Beutong Ateuh Banggalang. Ini mengharuskan puluhan warga kerja bakti untuk membersihkan pasir dan batu gunung yang memenuhi badan jalan dan telah menjebak para pengguna jalan yang berlalu lalang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Bina Marga Nagan Raya, HT Narensyah yang menghubungi Serambi, Senin sore, melaporkan, longsor di puncak Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong itu kini makin parah. Pasalnya, material pasir dan batu gunung di kawasan itu terus luruh, sehingga menimbun badan jalan.
Apalagi menjelang sore, bongkahan batu besar dari area puncak gunung luruh ke badan jalan. Derita warga dan pengguna jalan di kawasan itu semakin lengkap, karena hujan deras terus mengguyur kawasan pegunungan itu, sehingga material longsor yang memenuhi badan jalan sangat sulit untuk dipindahkan ke sisi jalan. “Longsornya terus terjadi. Pemkab Nagan Raya tak mampu mengatasi hal ini, karena alat yang kami miliki sangat terbatas,” katanya.
Ia deskripsikan, material longsor itu terus berjatuhan ke badan jalan saat diguyur hujan lebat. Dalam pada itu, ketika tanah yang memenuhi badan jalan itu berhasil dipindahkan, material lainnya pun ikut luruh sehingga harus dilakukan pencegahan serius agar kondisi jalan tidak semakin parah.
Tambah tiga titik
Di sisi lain, kata Narensyah, longsor yang terjadi di lintasan Jeuram-Takengon itu kini bertambah tiga titik lagi di kawasan Beutong Ateuh Banggalang. Akibatnya, puluhan warga setempat terpaksa dikerahkan bergotong royong untuk membersihkan material longsor yang ikut menjebak para pengguna jalan.
Apalagi kondisi jalan yang mengalami longsor itu, katanya, saat ini hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat berbadan kecil. “Secara umum sangat kecil kemungkinan untuk menerobos longsor tersebut karena tak ada celah untuk bisa melintasinya,” kata Narensyah.
Oleh karenanya, Plt Kepala Dinas Bina Marga Nagan Raya itu meminta kepada Gubernur Aceh supaya segera menurunkan tim ke kawasan Singgah Mata guna mengatasi longsor yang terus terjadi. Soalnya, hingga kini Pemkab Nagan Raya tak mampu mengatasi masalah itu lantaran terbatasnya alat berat yang dimiliki, di samping bukan tanggung jawab pemkab setempat memperbaikinya, mengingat ruas jalan itu berstatus jalan provinsi.
Ikut terjebak
Narensyah menambahkan, sejak Senin hingga Selasa (11-12/4) kemarin puluhan kendaraan roda empat yang melintas di rute Jeuram-Takengon ikut terjebak longsor dan terpaksa harus kembali ke tempat pemberangkatannya. Ini karena, badan jalan yang berada di kawasan itu sangat sulit dilintasi akibat tertimbun longsor dan menyebabkan antrean panjang.
Apalagi sejumlah kendaraan ikut terjebak lumpur sehingga terpaksa ditarik menggunakan kendaraan lain. Bahkan rombongan Bupati Nagan Raya, Drs HT Zulkarnaini yang kembali dari Beutong Ateuh Banggalang ikut terjebak longsor, namun berhasil diatasi sepihak oleh anggota rombongan.
Zulkifli, pengguna jalan di lintasan yang kini bermasalah itu, kepada Serambi kemarin mengakui, longsor yang terjadi di Pegunungan Singgah Mata itu makin parah kondisinya. Ia juga minta kepada Pemerintah Aceh supaya segera mengatasi persoalan itu sebelum jalur itu putus dan mengisolasi ribuan masyarakat Beutong Ateuh. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Lintas Jeuram-Takengon Longsor Lagi
* Bongkahan Batu dan Kabut Jadi Ancaman
Tue, Apr 12th 2011, 10:31

Seorang warga melihat timbunan longsor di ruas jalan provinsi lintasan Jeuram-Takengon, kawasan puncak pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Senin (11/4) siang. SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram (Nagan Raya)-Takengon (Aceh Tengah), tepatnya di kawasan puncak pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Senin (11/4) pagi kembali longsor, akibat hujan lebat yang mengguyur kawasan itu sejak pekan lalu.
Akibatnya, gugus bebatuan besar dan pasir gunung berjatuhan, sehingga menutupi sekitar 200 meter badan jalan. Ruas jalan itu juga sangat licin dan berlumpur, sehingga sukar dilintasi kendaraan. Alhasil, sebagian besar pengguna jalan terpaksa balik arah, kembali ke Jeuram, ibu kota Kabupaten Nagan Raya.
Di tengah kondisi yang demikian, Serambi berupaya mengabadikan gambar langsung di lokasi longsor, puncak Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, kemarin siang. Tapi wartawan harian ini tak leluasa mengambil gambar, karena puncak gunung tersebut dipenuhi kabut asap tebal, sehingga mengganggu jarak pandang. Belum lagi saat itu hujan lebat sedang mengguyur.
Terlihat, sejumlah kendaraan roda empat yang berupaya menembus lokasi longsor terpaksa menyerah dan berbalik arah guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan di lokasi rawan longsor itu. Apalagi sejumlah pejabat Pemkab Nagan Raya juga gagal menjangkau lokasi saat menuju Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang guna menghadiri acara peresmian kecamatan baru di kawasan pegunungan itu.
Namun, beberapa pengendara sepeda motor (sepmor) yang meluncur dari arah Takengon, Aceh Tengah, menuju kawasan Nagan Raya, berhasil melintasi lokasi longsor itu, karena jalan yang dibutuhkan sepmor tidak selebar yang dibutuhkan kendaraan roda empat. Begitu ada sedikit celah jalan, sepmor langsung bisa melintas.
Fauzi, salah satu pengguna jalan, warga Kota Jeuram, Kecamatan Seunagan kepada Serambi di lokasi longsor mengaku longsor terjadi Senin pagi kemarin akibat guyuran hujan lebat yang sering melanda kawasan pegunungan itu.
Meski sisa longsor sebelumnya telah diatasi oleh pihak terkait, akan tetapi longsor yang terjadi kemarin ikut mengganggu arus lalu lintas. Pengguna jalan umumnya tak berani melintas karena takut akan ada longsor susulan. Lebih-lebih karena, bongkahan batu besar yang berada di sisi kanan jalan, kini hampir jatuh ke badan jalan. Pergerakan kendaraan di sekitar itu, dikhawatirkan warga bisa menyebabkan bongkahan batu besar itu luruh dan makin menutup badan jalan.
“Kami tak mau ambil risiko dan terpaksa berbalik arah. Soalnya, badan jalan licin dan kawasan ini juga rawan longsor susulan. Apalagi hujan lebat terus mengguyur,” katanya.
Hal senada diutarakan Anwar, pengguna jalan di Kota Meulaboh. Menurutnya, longsor yang terjadi di puncak Gunung Singgah Mata kemarin menyebabkan ia bersama rekan-rekannya yang lain tak bisa melintasi ruas jalan tersebut. Apalagi perjalanan mereka terganggu oleh tebalnya kabut asap.
Selain itu, hingga kemarin bebatuan gunung dan pasir yang berada di kawasan itu terus berjatuhan akibat guyuran hujan. Anwar sangat menyayangkan karena hingga kemarin tidak terlihat adanya alat berat yang siaga di lokasi longsor. “Saya khawatir, longsor yang terjadi itu akan memutuskan arus transportasi masyarakat,” kata Anwar.
Sementara itu, Plt Dinas Bina Marga Nagan Raya, HT Narensyah yang berupaya dikonfirmasi Serambi, hingga berita ini diturunkan kemarin sore tidak berhasil dihubungi. Yang bersangkutan dikabarkan telah berada di Beutong Ateuh bersama rombongan Bupati Drs HT Zulkarnaini yang meresmikan kecamatan baru. Sayangnya, hp Narensyah yang kemarin dihubungi berkali-kali tidak tersambung, karena berada di luar jangkauan. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Tue, Apr 12th 2011, 10:31

Seorang warga melihat timbunan longsor di ruas jalan provinsi lintasan Jeuram-Takengon, kawasan puncak pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Senin (11/4) siang. SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram (Nagan Raya)-Takengon (Aceh Tengah), tepatnya di kawasan puncak pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Senin (11/4) pagi kembali longsor, akibat hujan lebat yang mengguyur kawasan itu sejak pekan lalu.
Akibatnya, gugus bebatuan besar dan pasir gunung berjatuhan, sehingga menutupi sekitar 200 meter badan jalan. Ruas jalan itu juga sangat licin dan berlumpur, sehingga sukar dilintasi kendaraan. Alhasil, sebagian besar pengguna jalan terpaksa balik arah, kembali ke Jeuram, ibu kota Kabupaten Nagan Raya.
Di tengah kondisi yang demikian, Serambi berupaya mengabadikan gambar langsung di lokasi longsor, puncak Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, kemarin siang. Tapi wartawan harian ini tak leluasa mengambil gambar, karena puncak gunung tersebut dipenuhi kabut asap tebal, sehingga mengganggu jarak pandang. Belum lagi saat itu hujan lebat sedang mengguyur.
Terlihat, sejumlah kendaraan roda empat yang berupaya menembus lokasi longsor terpaksa menyerah dan berbalik arah guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan di lokasi rawan longsor itu. Apalagi sejumlah pejabat Pemkab Nagan Raya juga gagal menjangkau lokasi saat menuju Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang guna menghadiri acara peresmian kecamatan baru di kawasan pegunungan itu.
Namun, beberapa pengendara sepeda motor (sepmor) yang meluncur dari arah Takengon, Aceh Tengah, menuju kawasan Nagan Raya, berhasil melintasi lokasi longsor itu, karena jalan yang dibutuhkan sepmor tidak selebar yang dibutuhkan kendaraan roda empat. Begitu ada sedikit celah jalan, sepmor langsung bisa melintas.
Fauzi, salah satu pengguna jalan, warga Kota Jeuram, Kecamatan Seunagan kepada Serambi di lokasi longsor mengaku longsor terjadi Senin pagi kemarin akibat guyuran hujan lebat yang sering melanda kawasan pegunungan itu.
Meski sisa longsor sebelumnya telah diatasi oleh pihak terkait, akan tetapi longsor yang terjadi kemarin ikut mengganggu arus lalu lintas. Pengguna jalan umumnya tak berani melintas karena takut akan ada longsor susulan. Lebih-lebih karena, bongkahan batu besar yang berada di sisi kanan jalan, kini hampir jatuh ke badan jalan. Pergerakan kendaraan di sekitar itu, dikhawatirkan warga bisa menyebabkan bongkahan batu besar itu luruh dan makin menutup badan jalan.
“Kami tak mau ambil risiko dan terpaksa berbalik arah. Soalnya, badan jalan licin dan kawasan ini juga rawan longsor susulan. Apalagi hujan lebat terus mengguyur,” katanya.
Hal senada diutarakan Anwar, pengguna jalan di Kota Meulaboh. Menurutnya, longsor yang terjadi di puncak Gunung Singgah Mata kemarin menyebabkan ia bersama rekan-rekannya yang lain tak bisa melintasi ruas jalan tersebut. Apalagi perjalanan mereka terganggu oleh tebalnya kabut asap.
Selain itu, hingga kemarin bebatuan gunung dan pasir yang berada di kawasan itu terus berjatuhan akibat guyuran hujan. Anwar sangat menyayangkan karena hingga kemarin tidak terlihat adanya alat berat yang siaga di lokasi longsor. “Saya khawatir, longsor yang terjadi itu akan memutuskan arus transportasi masyarakat,” kata Anwar.
Sementara itu, Plt Dinas Bina Marga Nagan Raya, HT Narensyah yang berupaya dikonfirmasi Serambi, hingga berita ini diturunkan kemarin sore tidak berhasil dihubungi. Yang bersangkutan dikabarkan telah berada di Beutong Ateuh bersama rombongan Bupati Drs HT Zulkarnaini yang meresmikan kecamatan baru. Sayangnya, hp Narensyah yang kemarin dihubungi berkali-kali tidak tersambung, karena berada di luar jangkauan. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Minggu, 05 Juni 2011
Longsor di Lintas Jeuram-Takengon Masih Mengancam
* Angkutan Umum belum Berani Lewat
Sat, Apr 2nd 2011, 11:12
JEURAM - Ruas jalan provinsi di lintas Jeuram (Nagan Raya)-Takengon (Aceh Tengah), tepatnya di kawasan pegunungan Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, sejak Kamis sore hingga Jumat (1/4) kemarin telah bisa dilintasi. Sebelumnya, kawasan pegunungan ini dilanda longsor yang menutup badan jalan sepanjang 10 meter, sehingga arus transportasi lumpuh.
Namun, meski longsor sudah berhasil ditangani, hingga kini ruas jalan alternatif itu masih rawan longsor dan batuan gunung kerap berjatuhan, sehingga warga diminta ekstrahati-hati saat melintas. “Jika diguyur hujan, maka tidak tertutup kemungkinan kawasan itu akan kembali longsor,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Bina Marga dan Pekerjaan Umum Kabupaten Nagan Raya, Teuku Nahrensyah menjawab Serambi, Jumat (1/4) kemarin.
Secara umum, menurutnya, kawasan itu sudah bisa dilintasi kembali setelah pemkab setempat menurunkan sejumlah alat berat untuk mengeruk material longsor pascakejadian, Selasa (29/3) malam. Namun, apabila terus dibiarkan seperti keadaan sekarang ini, tanpa adanya penanganan apa pun dari pihak provinsi, maka musibah longsor berpeluang terjadi lagi.
Oleh karena itu, Nahrensyah meminta kepada Pemerintah Aceh untuk segera menangani lintasan Jeuram-Takengon, khususnya di kawasan Pegunungan Singgah Mata, sehingga longsor yang memacetkan arus lalu lintas tidak terulang kembali.
Takut melintas
Secara terpisah, si Am, petugas loket CV Abdya Perdana yang ditemui Serambi di Terminal Bus Meulaboh kemarin mengatakan, sejauh ini armada CV Abdya Perdana masih menggunakan jalur Geumpang untuk menuju Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Ia beralasan, belum dilintasinya ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram-Takengon itu disebabkan awak angkutan masih khawatir dengan ancaman longsor susulan. “Tapi, kalau sudah normal, kita tetap akan melintasinya kembali,” kata Am.
Meski terjadi pengalihan rute perjalanan via Geumpang, menurut Am, pihaknya tidak menaikkan tarif. “Saat ini kami masih menggunakan tarif lama, yakni Rp 150 ribu/penumpang. Soalnya, sejauh ini angkutan dari dan ke wilayah Dataran Tinggi Gayo itu penumpangnya selalu penuh,” ujar Am. (edi)
sumber : Serambinews.com
Sat, Apr 2nd 2011, 11:12
JEURAM - Ruas jalan provinsi di lintas Jeuram (Nagan Raya)-Takengon (Aceh Tengah), tepatnya di kawasan pegunungan Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, sejak Kamis sore hingga Jumat (1/4) kemarin telah bisa dilintasi. Sebelumnya, kawasan pegunungan ini dilanda longsor yang menutup badan jalan sepanjang 10 meter, sehingga arus transportasi lumpuh.
Namun, meski longsor sudah berhasil ditangani, hingga kini ruas jalan alternatif itu masih rawan longsor dan batuan gunung kerap berjatuhan, sehingga warga diminta ekstrahati-hati saat melintas. “Jika diguyur hujan, maka tidak tertutup kemungkinan kawasan itu akan kembali longsor,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Bina Marga dan Pekerjaan Umum Kabupaten Nagan Raya, Teuku Nahrensyah menjawab Serambi, Jumat (1/4) kemarin.
Secara umum, menurutnya, kawasan itu sudah bisa dilintasi kembali setelah pemkab setempat menurunkan sejumlah alat berat untuk mengeruk material longsor pascakejadian, Selasa (29/3) malam. Namun, apabila terus dibiarkan seperti keadaan sekarang ini, tanpa adanya penanganan apa pun dari pihak provinsi, maka musibah longsor berpeluang terjadi lagi.
Oleh karena itu, Nahrensyah meminta kepada Pemerintah Aceh untuk segera menangani lintasan Jeuram-Takengon, khususnya di kawasan Pegunungan Singgah Mata, sehingga longsor yang memacetkan arus lalu lintas tidak terulang kembali.
Takut melintas
Secara terpisah, si Am, petugas loket CV Abdya Perdana yang ditemui Serambi di Terminal Bus Meulaboh kemarin mengatakan, sejauh ini armada CV Abdya Perdana masih menggunakan jalur Geumpang untuk menuju Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Ia beralasan, belum dilintasinya ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram-Takengon itu disebabkan awak angkutan masih khawatir dengan ancaman longsor susulan. “Tapi, kalau sudah normal, kita tetap akan melintasinya kembali,” kata Am.
Meski terjadi pengalihan rute perjalanan via Geumpang, menurut Am, pihaknya tidak menaikkan tarif. “Saat ini kami masih menggunakan tarif lama, yakni Rp 150 ribu/penumpang. Soalnya, sejauh ini angkutan dari dan ke wilayah Dataran Tinggi Gayo itu penumpangnya selalu penuh,” ujar Am. (edi)
sumber : Serambinews.com
Rabu, 01 Juni 2011
Banjir Luapan Rendam Nagan
* 4.056 Warga Terkurung, Distribusi Bantuan dengan Speed Boat
Fri, Apr 1st 2011, 11:45

Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3). SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3).
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Setelah menerjang delapan kecamatan di Kabupaten Aceh Barat, banjir yang disebabkan meluapnya sungai Krueng Tripa dan Krueng Lamie, kini merendam pula sejumlah kawasan di Nagan Raya. Akibatnya, sebanyak 1.069 kepala keluarga (KK) atau 4.056 jiwa warga 11 desa di kabupaten itu dilaporkan kini terkurung banjir.
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Nagan Raya, Drs Abdurrani Cut, mengatakan banjir luapan yang mengurung 4.056 warga di Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, akibat meluapnya dua sungai besar yakni Krueng Lamie dan Krueng Tripa. “Proses penyaluran bantuan untuk warga yang terkurung banjir itu, terpaksa kita lakukan dengan menggunakan speed boat,” katanya kepada Serambi, Kamis (31/3).
Dikatakan, 11 desa yang ikut terendam banjir luapan itu masing-masing Desa Pasi Keubeudom (124 KK atau 552 jiwa), Kabu (42 KK atau 126 jiwa), Lueng Keubeu Jagat (108 KK atau 386 jiwa), Drien Tujoh (135 KK/520 jiwa), Babah Lueng (208 KK atau 786 jiwa), Kuta Trieng (42 KK atau 170 jiwa), Kuala Seumayam (63 KK atau 238 jiwa), Ujong Krueng (115 KK atau 443 jiwa), Mon Dua (51 KK atau 153 jiwa), Neubok Yee PP (115 atau 472 jiwa), serta Neubok Yee PK (70 KK atau 210 jiwa).
Menurut Abdurrani, meski telah terkurung banjir, namun hingga kini ribuan masyarakat di wilayah itu belum mau mengungsi ke tempat lain yang lebih aman. Karena itu, pihaknya berusaha menerobos pemukiman warga menggunakan speed boat dengan cara menempuh jalur sungai. “Kami terus berupaya membantu masyarakat dan telah melaporkannya kepada pemerintah provinsi di Banda Aceh,” katanya.
Secara terpisah, Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini yang ditanyai Serambi, kemarin siang, mengaku banjir yang kerap melanda sebagian besar kawasan di wilayahnya akibat ulah penebang liar yang kerap menebang hutan di kawasan pegunungan. “Sepertinya Moratorium Logging (Jeda Tebang Hutan) yang diterapkan Pemerintah Aceh belum efektif,” katanya.
Masih terendam
Banjir yang sebelumnya juga melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Aceh Singkil, Kamis (31/3) kemarin, dilaporkan semakin meluas. Setidaknya sekitar 20 desa yang tersebar di Kecamatan Singkil, Singkil Utara, Simpang Kanan, Gunung Meriah, dan Suro, dilaporkan kini masih terendam banjir.
Banjir juga telah merusak sekitar 300 hektar sawah dalam berbagai usia, merendam fasilitas umum, jalan raya, masjid dan beberapa sekolah di Aceh Singkil terpaksa diliburkan. Banjir juga merendam kawasan pemukiman dan masuk ke rumah-rumah penduduk dengan ketinggian air 50-60 cm.
Banjir luapan Hujan deras yang mengguyur Kota Langsa sejak, Rabu (30/3) sore hingga, Kamis (31/3) dini hari, menyebabkan meluapnya Krueng Langsa. Akibat derasnya arus, tanggul penahan air di bantaran sungai setempat ambruk. Selain itu, sejumlah gampong di sekitar bantaran sungai juga ikut terendam.
Sementara itu, aktivitas mahasiswa di dua perguruan tinggi dilaporkan lumpuh total. Hal itu akibat jalan menuju kampus, di Gampong Meurandeh, Kecamatan Langsa Lama, terendam air setinggi satu meter.
Informasi yang dihimpun Serambi, Kamis (31/3), akibat arus deras dan tingginya volume air hujan yang diturunkan dari arah pegunungan Aceh Timur menuju Krueng Langsa, telah mengakibatkan satu titik tanggul penahan air yang berada di sekitar Gampong Sidorjo, Kecamatan Langsa Lama, jebol (pecah).
Mulai surut
Sementara itu dari Kabupaten Aceh Barat dilaporkan, musibah banjir yang melanda delapan kecamatan di wilayah itu, Kamis (31/3) kemarin, tampak mulai surut. Namun di beberapa kecamatan di kawasan pedalaman, masih terendam air dengan ketinggian air berkisar antara 50-100 cm dan tak terlalu mempengaruhi masyarakat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat HT Ahmad Dadek SH yang dikonfirmasi Serambi, mengaku sebagian besar kawasan di wilayah itu yang terkena banjir kini mulai surut. Bahkan sejumlah pengungsi yang sebelumnya terpaksa diungsikan dan dilakukan pembangunan dapur umum, juga telah kembali ke kediaman mereka.
Sementara itu, banjir yang melanda empat kecamatan di Aceh Jaya, telah menimbulkan kerusakan terhadap prasarana umum berupa satu unit jembatan berkontruksi kayu di Desa Gampong Baro, Kecamatan Setia, ambruk diterjang banjir pada Rabu (30/3).
Selain itu, seperti diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Jaya, Ir T Rusdi, sekitar 191 hektare sawah warga di Panga dan Krueng Sabee terendam banjir dan 11 hentare di antaranya dipastikan akan gagal panen (puso). “Kita akan laporkan masalah ini kepada pemerintah provinsi,” katanya kepada Serambi, di Calang, kemarin.
Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Jaya Zamzami A Rani, mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya memperbaiki berbagai sarana dan prasarana umum yang rusak itu, sehingga warga akan tetap dapat beraktifitas kembali. “Sejauh ini, kerusakan infrastuktur hanya satu unit jembatan, yang lainnya belum ada laporan,” katanya.(edi/c39/c42/is/c45)
Sumber : Serambinews.com
Fri, Apr 1st 2011, 11:45

Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3). SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3).
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Setelah menerjang delapan kecamatan di Kabupaten Aceh Barat, banjir yang disebabkan meluapnya sungai Krueng Tripa dan Krueng Lamie, kini merendam pula sejumlah kawasan di Nagan Raya. Akibatnya, sebanyak 1.069 kepala keluarga (KK) atau 4.056 jiwa warga 11 desa di kabupaten itu dilaporkan kini terkurung banjir.
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Nagan Raya, Drs Abdurrani Cut, mengatakan banjir luapan yang mengurung 4.056 warga di Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, akibat meluapnya dua sungai besar yakni Krueng Lamie dan Krueng Tripa. “Proses penyaluran bantuan untuk warga yang terkurung banjir itu, terpaksa kita lakukan dengan menggunakan speed boat,” katanya kepada Serambi, Kamis (31/3).
Dikatakan, 11 desa yang ikut terendam banjir luapan itu masing-masing Desa Pasi Keubeudom (124 KK atau 552 jiwa), Kabu (42 KK atau 126 jiwa), Lueng Keubeu Jagat (108 KK atau 386 jiwa), Drien Tujoh (135 KK/520 jiwa), Babah Lueng (208 KK atau 786 jiwa), Kuta Trieng (42 KK atau 170 jiwa), Kuala Seumayam (63 KK atau 238 jiwa), Ujong Krueng (115 KK atau 443 jiwa), Mon Dua (51 KK atau 153 jiwa), Neubok Yee PP (115 atau 472 jiwa), serta Neubok Yee PK (70 KK atau 210 jiwa).
Menurut Abdurrani, meski telah terkurung banjir, namun hingga kini ribuan masyarakat di wilayah itu belum mau mengungsi ke tempat lain yang lebih aman. Karena itu, pihaknya berusaha menerobos pemukiman warga menggunakan speed boat dengan cara menempuh jalur sungai. “Kami terus berupaya membantu masyarakat dan telah melaporkannya kepada pemerintah provinsi di Banda Aceh,” katanya.
Secara terpisah, Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini yang ditanyai Serambi, kemarin siang, mengaku banjir yang kerap melanda sebagian besar kawasan di wilayahnya akibat ulah penebang liar yang kerap menebang hutan di kawasan pegunungan. “Sepertinya Moratorium Logging (Jeda Tebang Hutan) yang diterapkan Pemerintah Aceh belum efektif,” katanya.
Masih terendam
Banjir yang sebelumnya juga melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Aceh Singkil, Kamis (31/3) kemarin, dilaporkan semakin meluas. Setidaknya sekitar 20 desa yang tersebar di Kecamatan Singkil, Singkil Utara, Simpang Kanan, Gunung Meriah, dan Suro, dilaporkan kini masih terendam banjir.
Banjir juga telah merusak sekitar 300 hektar sawah dalam berbagai usia, merendam fasilitas umum, jalan raya, masjid dan beberapa sekolah di Aceh Singkil terpaksa diliburkan. Banjir juga merendam kawasan pemukiman dan masuk ke rumah-rumah penduduk dengan ketinggian air 50-60 cm.
Banjir luapan Hujan deras yang mengguyur Kota Langsa sejak, Rabu (30/3) sore hingga, Kamis (31/3) dini hari, menyebabkan meluapnya Krueng Langsa. Akibat derasnya arus, tanggul penahan air di bantaran sungai setempat ambruk. Selain itu, sejumlah gampong di sekitar bantaran sungai juga ikut terendam.
Sementara itu, aktivitas mahasiswa di dua perguruan tinggi dilaporkan lumpuh total. Hal itu akibat jalan menuju kampus, di Gampong Meurandeh, Kecamatan Langsa Lama, terendam air setinggi satu meter.
Informasi yang dihimpun Serambi, Kamis (31/3), akibat arus deras dan tingginya volume air hujan yang diturunkan dari arah pegunungan Aceh Timur menuju Krueng Langsa, telah mengakibatkan satu titik tanggul penahan air yang berada di sekitar Gampong Sidorjo, Kecamatan Langsa Lama, jebol (pecah).
Mulai surut
Sementara itu dari Kabupaten Aceh Barat dilaporkan, musibah banjir yang melanda delapan kecamatan di wilayah itu, Kamis (31/3) kemarin, tampak mulai surut. Namun di beberapa kecamatan di kawasan pedalaman, masih terendam air dengan ketinggian air berkisar antara 50-100 cm dan tak terlalu mempengaruhi masyarakat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat HT Ahmad Dadek SH yang dikonfirmasi Serambi, mengaku sebagian besar kawasan di wilayah itu yang terkena banjir kini mulai surut. Bahkan sejumlah pengungsi yang sebelumnya terpaksa diungsikan dan dilakukan pembangunan dapur umum, juga telah kembali ke kediaman mereka.
Sementara itu, banjir yang melanda empat kecamatan di Aceh Jaya, telah menimbulkan kerusakan terhadap prasarana umum berupa satu unit jembatan berkontruksi kayu di Desa Gampong Baro, Kecamatan Setia, ambruk diterjang banjir pada Rabu (30/3).
Selain itu, seperti diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Jaya, Ir T Rusdi, sekitar 191 hektare sawah warga di Panga dan Krueng Sabee terendam banjir dan 11 hentare di antaranya dipastikan akan gagal panen (puso). “Kita akan laporkan masalah ini kepada pemerintah provinsi,” katanya kepada Serambi, di Calang, kemarin.
Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Jaya Zamzami A Rani, mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya memperbaiki berbagai sarana dan prasarana umum yang rusak itu, sehingga warga akan tetap dapat beraktifitas kembali. “Sejauh ini, kerusakan infrastuktur hanya satu unit jembatan, yang lainnya belum ada laporan,” katanya.(edi/c39/c42/is/c45)
Sumber : Serambinews.com
Langganan:
Postingan (Atom)