* Buah Sawit PT Astra Dipanen Paksa
Fri, Apr 8th 2011, 10:35
JEURAM - Ratusan warga di Desa Ujong Krueng, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, Kamis (7/4) kemarin, dilaporkan menyandera tiga unit alat berat yang sedang membuka lahan milik seorang anggota DPRK setempat, yang diduga telah ikut menyerobot pula puluhan hektare lahan masyarakat.
Ketua Pemuda Gampong Ujong Krueng, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Ramli yang menghubungi Serambi, kemarin mengaku penyanderaan tiga unit alat berat itu dimaksudkan untuk menghentikan sementara pembukaan lahan oleh seorang wakil rakyat di lahan yang diklaim milik masyarakat setempat.
Dikatakannya, lahan warga yang terletak di perbatasan Kecamatan Darul Makmur dan Tadu Raya, belum jelas tapal batasnya dan harus segera diluruskan agar tak menimbulkan konflik antara warga dan wakil rakyat tersebut. “Alat berat yang berhasil kami bawa pulang ke kampung hanya satu unit, dan dua unit lainnya kami hentikan aktivitasnya dan kami sandera di areal perkebunan,” jelasnya.
Menurut Ramli, penyanderaan ketiga unit alat berat yang tersebut dilakukan warga dikarenakan hingga kini dengan penggarap lahan, tak mencapai kata sepakat sehingga mereka memutuskan untuk menyandera alat berat dengan harapan supaya persoalan itu bisa segera berakhir dan ada solusinya. “Kami tidak akan mengakhiri aksi penyanderaan ini sebelum kasus tersebut diselesaikan dengan baik oleh pihak terkait,” katanya.
Panen paksa
Sementara itu, dari Desa Alue Gani, Kecamatan Tadu Raya, kabupaten setempat sekitar seratusan masyarakat sepanjang siang kemarin terpaksa memanen secara paksa buah sawit di lahan seluas 80 hektare milik PT Astra Agro Lestari.
Pengambilan paksa hasil kebun itu dilakukan warga setelah masyarakat bersama pihak perusahaan, gagal mencapai titik temu guna memastikan pembayaran ganti rugi lahan. Sehingga warga yang tak mau perkebunan sawit itu tumbuh di lahan mereka malah mengambil secara paksa untuk dipanen guna selanjutnya dijual dan dibagikan kepada seluruh pemilik tanah.
Sejumlah warga yang menghubungi Serambi, kemarin, mengaku mengambil paksa buah sawit milik perusahaan itu karena hingga kini pihak perusahaan belum bersedia membayar ganti rugi lahan yang mereka miliki. “Kami akan mengakhiri hal ini, apabila tanah kami dibayar pihak perusahaan” kata seorang warga.
Menanggapi persoalan itu, Kapolres Nagan Raya AKBP Drs Ari Soebijanto mengaku telah berupaya menghentikan aksi pengambilan secara paksa buah sawit di lahan milik perusahaan yang dilakukan oleh seratusan masyarakat yang mengklaim lahan tersebut milik warga.
Menurutnya, meski polisi telah berusaha mencegah supaya perbuatan itu tak dilakukan, namun warga tetap saja memaksa kehendak untuk melakukan aksinya. Sehingga guna menghindari adanya hal-hal yang tak diinginkan, polisi juga melakukan tindakan persuasif, akan tetapi hal itu tak juga berhasil.
Ia mengaku akan mengambil tindakan terhadap aksi yang dilakukan warga, mengingat pengambilan buah sawit secara paksa itu merupakan bentuk pelanggaran hukum yang harus ditindak tegas. “Polisi hanya bisa melindungi dan mengakui kepemilikan tanah itu jika pemiliknya mempunyai mempunyai sertifikat,” katanya.(edi)
Sumber : Serambinews.com
Rabu, 08 Juni 2011
Selasa, 07 Juni 2011
Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga di Nagan
* Diduga Akibat Pembakaran Lahan
Thu, Apr 7th 2011, 09:48
JEURAM - Aksi pembakaran lahan dilaporkan kembali terjadi di sejumlah kawasan di Kabupaten Nagan Raya. Akibatnya, sejumlah kecamatan di wilayah itu kini menimbulkan kabut asap yang bukan saja mengganggu aktivitas warga, tapi juga sangat mengganggu para pengguna jalan raya karena jarak pandang terbatas.
Pantauan Serambi, Rabu (6/4) kemarin kabut asap yang melanda kawasan itu telah meliputi enam kecamatan di Nagan Raya di antaranya Kecamatan Suka Makmue, Seunagan, Seunagan Timur, Beutong, serta sebagian kecamatan Kuala dan Kuala Pesisir. Bahkan lokasi yang terparah terjangan kabut asap itu berada di Kecamatan Suka Makmue, mengingat dampak yang ditimbulkan menyebabkan warga mengalami iritasi dan tak bisa melihat secara jelas.
Kabag Humas Setdakab Nagan Raya, Drs Said Amri mengatakan, kabut asap yang melanda kawasan itu mulai mengganggu aktivitas masyarakat setempat. Selain itu, kabut asap yang terjadi kemarin juga ikut mengganggu para pengendara kendaraan bermotor karena jarak pandang terbatas dan menimbulkan iritasi di mata.
Said Amri menduga, penyebab kabut asap yang melanda kawasan itu diakibatkan maraknya pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat serta kemungkinan besar terbakarnya lahan. Namun untuk mencegah meluasnya hal itu, ia akan berkoordinasi dengan pihak terkait guna melakukan berbagai langkah pencegahan supaya kabut asap itu tak meluas.
Turunkan tim
Secara terpisah, Kapolres Nagan Raya AKBP Drs Ari Soebijanto yang dikonfirmasi Serambi, kemarin mengaku belum mendapatkan laporan terkait pembakaran ataupun kebakaran lahan yang terjadi di kawasan itu. Namun ia mengaku sudah memerintah personelnya untuk menyelidiki dan memastikan penyebab kabut asap yang melanda sejumlah kecamatan di wilayah itu.
Menurut Kapolres Ari Soebijanto, kabut asap yang disebabkan oleh pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat itu merupakan bentuk pelanggaran dan harus memiliki izin dari pemerintah, sebelum melakukan pembukaan lahan. “Peristiwa ini masih kita telusuri, dan saya masih menunggu laporan dari tim yang sudah kita turunkan ke lapangan,” katanya. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Thu, Apr 7th 2011, 09:48
JEURAM - Aksi pembakaran lahan dilaporkan kembali terjadi di sejumlah kawasan di Kabupaten Nagan Raya. Akibatnya, sejumlah kecamatan di wilayah itu kini menimbulkan kabut asap yang bukan saja mengganggu aktivitas warga, tapi juga sangat mengganggu para pengguna jalan raya karena jarak pandang terbatas.
Pantauan Serambi, Rabu (6/4) kemarin kabut asap yang melanda kawasan itu telah meliputi enam kecamatan di Nagan Raya di antaranya Kecamatan Suka Makmue, Seunagan, Seunagan Timur, Beutong, serta sebagian kecamatan Kuala dan Kuala Pesisir. Bahkan lokasi yang terparah terjangan kabut asap itu berada di Kecamatan Suka Makmue, mengingat dampak yang ditimbulkan menyebabkan warga mengalami iritasi dan tak bisa melihat secara jelas.
Kabag Humas Setdakab Nagan Raya, Drs Said Amri mengatakan, kabut asap yang melanda kawasan itu mulai mengganggu aktivitas masyarakat setempat. Selain itu, kabut asap yang terjadi kemarin juga ikut mengganggu para pengendara kendaraan bermotor karena jarak pandang terbatas dan menimbulkan iritasi di mata.
Said Amri menduga, penyebab kabut asap yang melanda kawasan itu diakibatkan maraknya pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat serta kemungkinan besar terbakarnya lahan. Namun untuk mencegah meluasnya hal itu, ia akan berkoordinasi dengan pihak terkait guna melakukan berbagai langkah pencegahan supaya kabut asap itu tak meluas.
Turunkan tim
Secara terpisah, Kapolres Nagan Raya AKBP Drs Ari Soebijanto yang dikonfirmasi Serambi, kemarin mengaku belum mendapatkan laporan terkait pembakaran ataupun kebakaran lahan yang terjadi di kawasan itu. Namun ia mengaku sudah memerintah personelnya untuk menyelidiki dan memastikan penyebab kabut asap yang melanda sejumlah kecamatan di wilayah itu.
Menurut Kapolres Ari Soebijanto, kabut asap yang disebabkan oleh pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat itu merupakan bentuk pelanggaran dan harus memiliki izin dari pemerintah, sebelum melakukan pembukaan lahan. “Peristiwa ini masih kita telusuri, dan saya masih menunggu laporan dari tim yang sudah kita turunkan ke lapangan,” katanya. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Senin, 06 Juni 2011
Tuntut Perbaikan Jalan dan Jembatan, Ratusan Warga Nagan Demo DPRK dan Kantor Bupati
* Ancam Boikot Pilkada
Tue, Apr 5th 2011, 11:03

Ratusan warga dari sejumlah desa dari Kemukiman Kuta Makmue-Seumambek, Kecamatan Kuala, Nagan Raya, Senin (4/4) menggelar aksi unjukrasa di halaman Kantor Bupati Nagan Raya. Mereka menuntut pembangunan jembatan dan jalan yang telantar dan berdebu. Sebelumnya, massa juga sempat menggelar aksi serupa di DPRK setempat. SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Ratusan masyarakat yang berasal dari Desa Seumambek, Macah, Gunong Reubo, Kuta Makmue, Blang Baro, Pulo Ie, serta Padang Rubek, Kecamatan Kuala dan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya yang tergabung dalam Barisan Duka Meurandeh (Bakeudeh), Senin (4/4) kemarin berunjuk rasa ke gedung DPRK dan kantor bupati setempat di Kompleks Perkantoran Suka Makmue.
Kedatangan ratusan massa yang juga mengikutsertakan kaum ibu dan anak itu semula dilakukan di gedung DPRK guna menyampaikan aspirasi mereka di hadapan wakil rakyat. Bahkan dalam orasi yang disampaikan secara bergantian itu, masyarakat akhirnya diterima Ketua DPRK Nagan Raya, Samsuardi alias Juragan.
Mendengar penjelasan itu, akhirnya Ketua DPRK bersama ratusan warga mendatangi Kantor Bupati Nagan Raya yang berada bersebelahan dengan setdakab, guna bergabung dengan massa yang berjalan kaki serta ikut mengusung sejumlah tulisan yang intinya memrotes pemkab setempat karena masih telantarnya Jembatan Gunong Reubo dan tak adanya pembangunan badan jalan di kawasan pedalaman tersebut.
Bahkan sesampainya di pintu gerbang Kantor Bupati Nagan Raya, langkah Ketua DPRK Samsuardi beserta ratusan warga terhenti oleh penjagaan ketat yang dilakukan Satpol PP bersama aparat kepolisian. Massa yang mulai kepanasan dalam terik matahari itu malah tidak tinggal diam dan terus berorasi.
Bahkan dalam orasi yang disampaikan secara bergantian itu dibacakan tiga poin penting. Di antaranya, mendesak Pemkab Nagan Raya segera melaksanakan lanjutan pembangunan jembatan lintas Simpang Peuet-Gunong Reubo paling lambat dalam tahun 2011 ini.
Kedua, masyarakat meminta Pemkab Nagan Raya segera membangun jalan lintas gampong di kawasan Meurandeh (seberang sungai) Krueng Nagan yang kini rusak parah dan meninggalkan debu bagi masyarakat. Ketiga, bila aspirasi mereka tak ditanggapi secara serius oleh Pemkab
Nagan Raya, mereka mengancam tidak akan ikut dalam pilkada mendatang. Bahkan sebagian besar warga desa di kawasan itu akan kembali bergabung ke Aceh Barat yang merupakan bekas kabupaten induknya. “Itulah tuntutan dan kebutuhan yang sangat mendesak bagi kami masyarakat yang berdomisili di Meurandeh (seberang sungai -red), semoga para pemangku jabatan dapat membuka mata untuk melihat dan memperhatikan nasib masyarakat yang kini memprihatinkan,” teriak seorang orator.
Sementara itu, Bupati Nagan Raya didampingi Wabup M Kasem Ibrahim BSc, Kapolres Ari Soebijanto, Dandim 0116 Nagan Raya Letkol Inf Nanang Arianto, Ketua DPRK Samsuardi, Sekdakab Drs HT Zamzami TS MM beserta sejumlah unsur muspida menerima perwakilan masyarakat yang menyampaikan aspirasi tersebut. Acara itu berlangsung di ruang Asisten I Setdakab Nagan Raya.
Bahkan saat menemui ratusan massa di halaman Kantor Bupati Nagan Raya, Bupati T Zulkarnaini yang dikawal ketat petugas keamanan dan unsur muspida menjelaskan kepada warga bahwa aspirasi yang mereka sampaikan itu telah ditindaklanjuti. Bahkan ia berjanji, pembangunan lanjutan jembatan Simpang Peuet-Gunong Reubo itu akan dituntaskan pembangunannya dalam tahun 2011 ini, mengingat dana untuk pembangunan itu juga diplotkan dalam APBK sebesar Rp 1 miliar lebih dan diusulkan di APBA sebesar Rp 6 miliar.
“Apabila dana ini tak diberikan provinsi, maka saya bersama masyarakat yang akan datang langsung menghadap Gubernur Aceh untuk menyampaikan aspirasi,” kata T Zulkarnaini yang turut disambut tepuk tangan ratusan warga.
Mengenai pembangunan jalan kabupaten di kawasan itu, Bupati T Zulkarnaini mengaku akan membangunnya sesuai dengan anggaran yang ada, sehingga permukiman warga tak lagi berdebu. Namun, menyangkut tuntutan pengaspalan jalan desa, ia mengaku akan memperhatikan usulan tersebut dan belum bisa dipenuhi, mengingat terbatasnya anggaran yang ada.
Setelah mendapat jawaban langsung dari Bupati Nagan Raya, ratusan massa yang sebelumnya telah bertahan di bawah terik matahari langsung membubarkan diri secara tertib. Mereka kembali ke kampung halamannya masing-masing. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Tue, Apr 5th 2011, 11:03

Ratusan warga dari sejumlah desa dari Kemukiman Kuta Makmue-Seumambek, Kecamatan Kuala, Nagan Raya, Senin (4/4) menggelar aksi unjukrasa di halaman Kantor Bupati Nagan Raya. Mereka menuntut pembangunan jembatan dan jalan yang telantar dan berdebu. Sebelumnya, massa juga sempat menggelar aksi serupa di DPRK setempat. SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Ratusan masyarakat yang berasal dari Desa Seumambek, Macah, Gunong Reubo, Kuta Makmue, Blang Baro, Pulo Ie, serta Padang Rubek, Kecamatan Kuala dan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya yang tergabung dalam Barisan Duka Meurandeh (Bakeudeh), Senin (4/4) kemarin berunjuk rasa ke gedung DPRK dan kantor bupati setempat di Kompleks Perkantoran Suka Makmue.
Kedatangan ratusan massa yang juga mengikutsertakan kaum ibu dan anak itu semula dilakukan di gedung DPRK guna menyampaikan aspirasi mereka di hadapan wakil rakyat. Bahkan dalam orasi yang disampaikan secara bergantian itu, masyarakat akhirnya diterima Ketua DPRK Nagan Raya, Samsuardi alias Juragan.
Mendengar penjelasan itu, akhirnya Ketua DPRK bersama ratusan warga mendatangi Kantor Bupati Nagan Raya yang berada bersebelahan dengan setdakab, guna bergabung dengan massa yang berjalan kaki serta ikut mengusung sejumlah tulisan yang intinya memrotes pemkab setempat karena masih telantarnya Jembatan Gunong Reubo dan tak adanya pembangunan badan jalan di kawasan pedalaman tersebut.
Bahkan sesampainya di pintu gerbang Kantor Bupati Nagan Raya, langkah Ketua DPRK Samsuardi beserta ratusan warga terhenti oleh penjagaan ketat yang dilakukan Satpol PP bersama aparat kepolisian. Massa yang mulai kepanasan dalam terik matahari itu malah tidak tinggal diam dan terus berorasi.
Bahkan dalam orasi yang disampaikan secara bergantian itu dibacakan tiga poin penting. Di antaranya, mendesak Pemkab Nagan Raya segera melaksanakan lanjutan pembangunan jembatan lintas Simpang Peuet-Gunong Reubo paling lambat dalam tahun 2011 ini.
Kedua, masyarakat meminta Pemkab Nagan Raya segera membangun jalan lintas gampong di kawasan Meurandeh (seberang sungai) Krueng Nagan yang kini rusak parah dan meninggalkan debu bagi masyarakat. Ketiga, bila aspirasi mereka tak ditanggapi secara serius oleh Pemkab
Nagan Raya, mereka mengancam tidak akan ikut dalam pilkada mendatang. Bahkan sebagian besar warga desa di kawasan itu akan kembali bergabung ke Aceh Barat yang merupakan bekas kabupaten induknya. “Itulah tuntutan dan kebutuhan yang sangat mendesak bagi kami masyarakat yang berdomisili di Meurandeh (seberang sungai -red), semoga para pemangku jabatan dapat membuka mata untuk melihat dan memperhatikan nasib masyarakat yang kini memprihatinkan,” teriak seorang orator.
Sementara itu, Bupati Nagan Raya didampingi Wabup M Kasem Ibrahim BSc, Kapolres Ari Soebijanto, Dandim 0116 Nagan Raya Letkol Inf Nanang Arianto, Ketua DPRK Samsuardi, Sekdakab Drs HT Zamzami TS MM beserta sejumlah unsur muspida menerima perwakilan masyarakat yang menyampaikan aspirasi tersebut. Acara itu berlangsung di ruang Asisten I Setdakab Nagan Raya.
Bahkan saat menemui ratusan massa di halaman Kantor Bupati Nagan Raya, Bupati T Zulkarnaini yang dikawal ketat petugas keamanan dan unsur muspida menjelaskan kepada warga bahwa aspirasi yang mereka sampaikan itu telah ditindaklanjuti. Bahkan ia berjanji, pembangunan lanjutan jembatan Simpang Peuet-Gunong Reubo itu akan dituntaskan pembangunannya dalam tahun 2011 ini, mengingat dana untuk pembangunan itu juga diplotkan dalam APBK sebesar Rp 1 miliar lebih dan diusulkan di APBA sebesar Rp 6 miliar.
“Apabila dana ini tak diberikan provinsi, maka saya bersama masyarakat yang akan datang langsung menghadap Gubernur Aceh untuk menyampaikan aspirasi,” kata T Zulkarnaini yang turut disambut tepuk tangan ratusan warga.
Mengenai pembangunan jalan kabupaten di kawasan itu, Bupati T Zulkarnaini mengaku akan membangunnya sesuai dengan anggaran yang ada, sehingga permukiman warga tak lagi berdebu. Namun, menyangkut tuntutan pengaspalan jalan desa, ia mengaku akan memperhatikan usulan tersebut dan belum bisa dipenuhi, mengingat terbatasnya anggaran yang ada.
Setelah mendapat jawaban langsung dari Bupati Nagan Raya, ratusan massa yang sebelumnya telah bertahan di bawah terik matahari langsung membubarkan diri secara tertib. Mereka kembali ke kampung halamannya masing-masing. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Pemkab Nagan Gelar Musrenbang
Tue, Apr 5th 2011, 08:53
JEURAM-Setelah dua kali tertunda, Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Senin (4/4) kemarin melaksanakan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yang dihadiri puluhan peserta yang berasal dari unsur SKPK, DPRK, Camat, serta berbagai unsur lainnya berlangsung di aula Bappeda setempat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan SH dalam sambutannya mengatakan tujuan pelaksanaan Musrenbang itu untuk mendapatkan masukan terhadap penyempurnaan rancangan awal kerja pemerintah daerah yang memuat prioritas pembangunan daerah, penentuan alokasi anggaran, serta pemutakhiran data dan informasi terhadap kegiatannya yang bersumber pada ABPA, APBN, serta pendapatan lainnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Nagan Raya, M Kasem Ibrahim Bsc saat membuka kegiatan dimaksud berharap kepada seluruh pihak, supaya dalam menentukan arah prioritas pembangunan tetap mengacu ke arah yang lebih menyetuh kepentingan masyarakat banyak, sekaligus mampu memprioritaskan yang terbaik sesuai dengan usulan yang ada. (edi)
Sumber : Serambinews.com
JEURAM-Setelah dua kali tertunda, Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Senin (4/4) kemarin melaksanakan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yang dihadiri puluhan peserta yang berasal dari unsur SKPK, DPRK, Camat, serta berbagai unsur lainnya berlangsung di aula Bappeda setempat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan SH dalam sambutannya mengatakan tujuan pelaksanaan Musrenbang itu untuk mendapatkan masukan terhadap penyempurnaan rancangan awal kerja pemerintah daerah yang memuat prioritas pembangunan daerah, penentuan alokasi anggaran, serta pemutakhiran data dan informasi terhadap kegiatannya yang bersumber pada ABPA, APBN, serta pendapatan lainnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Nagan Raya, M Kasem Ibrahim Bsc saat membuka kegiatan dimaksud berharap kepada seluruh pihak, supaya dalam menentukan arah prioritas pembangunan tetap mengacu ke arah yang lebih menyetuh kepentingan masyarakat banyak, sekaligus mampu memprioritaskan yang terbaik sesuai dengan usulan yang ada. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Minggu, 05 Juni 2011
Longsor di Lintas Jeuram-Takengon Masih Mengancam
* Angkutan Umum belum Berani Lewat
Sat, Apr 2nd 2011, 11:12
JEURAM - Ruas jalan provinsi di lintas Jeuram (Nagan Raya)-Takengon (Aceh Tengah), tepatnya di kawasan pegunungan Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, sejak Kamis sore hingga Jumat (1/4) kemarin telah bisa dilintasi. Sebelumnya, kawasan pegunungan ini dilanda longsor yang menutup badan jalan sepanjang 10 meter, sehingga arus transportasi lumpuh.
Namun, meski longsor sudah berhasil ditangani, hingga kini ruas jalan alternatif itu masih rawan longsor dan batuan gunung kerap berjatuhan, sehingga warga diminta ekstrahati-hati saat melintas. “Jika diguyur hujan, maka tidak tertutup kemungkinan kawasan itu akan kembali longsor,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Bina Marga dan Pekerjaan Umum Kabupaten Nagan Raya, Teuku Nahrensyah menjawab Serambi, Jumat (1/4) kemarin.
Secara umum, menurutnya, kawasan itu sudah bisa dilintasi kembali setelah pemkab setempat menurunkan sejumlah alat berat untuk mengeruk material longsor pascakejadian, Selasa (29/3) malam. Namun, apabila terus dibiarkan seperti keadaan sekarang ini, tanpa adanya penanganan apa pun dari pihak provinsi, maka musibah longsor berpeluang terjadi lagi.
Oleh karena itu, Nahrensyah meminta kepada Pemerintah Aceh untuk segera menangani lintasan Jeuram-Takengon, khususnya di kawasan Pegunungan Singgah Mata, sehingga longsor yang memacetkan arus lalu lintas tidak terulang kembali.
Takut melintas
Secara terpisah, si Am, petugas loket CV Abdya Perdana yang ditemui Serambi di Terminal Bus Meulaboh kemarin mengatakan, sejauh ini armada CV Abdya Perdana masih menggunakan jalur Geumpang untuk menuju Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Ia beralasan, belum dilintasinya ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram-Takengon itu disebabkan awak angkutan masih khawatir dengan ancaman longsor susulan. “Tapi, kalau sudah normal, kita tetap akan melintasinya kembali,” kata Am.
Meski terjadi pengalihan rute perjalanan via Geumpang, menurut Am, pihaknya tidak menaikkan tarif. “Saat ini kami masih menggunakan tarif lama, yakni Rp 150 ribu/penumpang. Soalnya, sejauh ini angkutan dari dan ke wilayah Dataran Tinggi Gayo itu penumpangnya selalu penuh,” ujar Am. (edi)
sumber : Serambinews.com
Sat, Apr 2nd 2011, 11:12
JEURAM - Ruas jalan provinsi di lintas Jeuram (Nagan Raya)-Takengon (Aceh Tengah), tepatnya di kawasan pegunungan Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, sejak Kamis sore hingga Jumat (1/4) kemarin telah bisa dilintasi. Sebelumnya, kawasan pegunungan ini dilanda longsor yang menutup badan jalan sepanjang 10 meter, sehingga arus transportasi lumpuh.
Namun, meski longsor sudah berhasil ditangani, hingga kini ruas jalan alternatif itu masih rawan longsor dan batuan gunung kerap berjatuhan, sehingga warga diminta ekstrahati-hati saat melintas. “Jika diguyur hujan, maka tidak tertutup kemungkinan kawasan itu akan kembali longsor,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Bina Marga dan Pekerjaan Umum Kabupaten Nagan Raya, Teuku Nahrensyah menjawab Serambi, Jumat (1/4) kemarin.
Secara umum, menurutnya, kawasan itu sudah bisa dilintasi kembali setelah pemkab setempat menurunkan sejumlah alat berat untuk mengeruk material longsor pascakejadian, Selasa (29/3) malam. Namun, apabila terus dibiarkan seperti keadaan sekarang ini, tanpa adanya penanganan apa pun dari pihak provinsi, maka musibah longsor berpeluang terjadi lagi.
Oleh karena itu, Nahrensyah meminta kepada Pemerintah Aceh untuk segera menangani lintasan Jeuram-Takengon, khususnya di kawasan Pegunungan Singgah Mata, sehingga longsor yang memacetkan arus lalu lintas tidak terulang kembali.
Takut melintas
Secara terpisah, si Am, petugas loket CV Abdya Perdana yang ditemui Serambi di Terminal Bus Meulaboh kemarin mengatakan, sejauh ini armada CV Abdya Perdana masih menggunakan jalur Geumpang untuk menuju Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Ia beralasan, belum dilintasinya ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram-Takengon itu disebabkan awak angkutan masih khawatir dengan ancaman longsor susulan. “Tapi, kalau sudah normal, kita tetap akan melintasinya kembali,” kata Am.
Meski terjadi pengalihan rute perjalanan via Geumpang, menurut Am, pihaknya tidak menaikkan tarif. “Saat ini kami masih menggunakan tarif lama, yakni Rp 150 ribu/penumpang. Soalnya, sejauh ini angkutan dari dan ke wilayah Dataran Tinggi Gayo itu penumpangnya selalu penuh,” ujar Am. (edi)
sumber : Serambinews.com
Rabu, 01 Juni 2011
Banjir Luapan Rendam Nagan
* 4.056 Warga Terkurung, Distribusi Bantuan dengan Speed Boat
Fri, Apr 1st 2011, 11:45

Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3). SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3).
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Setelah menerjang delapan kecamatan di Kabupaten Aceh Barat, banjir yang disebabkan meluapnya sungai Krueng Tripa dan Krueng Lamie, kini merendam pula sejumlah kawasan di Nagan Raya. Akibatnya, sebanyak 1.069 kepala keluarga (KK) atau 4.056 jiwa warga 11 desa di kabupaten itu dilaporkan kini terkurung banjir.
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Nagan Raya, Drs Abdurrani Cut, mengatakan banjir luapan yang mengurung 4.056 warga di Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, akibat meluapnya dua sungai besar yakni Krueng Lamie dan Krueng Tripa. “Proses penyaluran bantuan untuk warga yang terkurung banjir itu, terpaksa kita lakukan dengan menggunakan speed boat,” katanya kepada Serambi, Kamis (31/3).
Dikatakan, 11 desa yang ikut terendam banjir luapan itu masing-masing Desa Pasi Keubeudom (124 KK atau 552 jiwa), Kabu (42 KK atau 126 jiwa), Lueng Keubeu Jagat (108 KK atau 386 jiwa), Drien Tujoh (135 KK/520 jiwa), Babah Lueng (208 KK atau 786 jiwa), Kuta Trieng (42 KK atau 170 jiwa), Kuala Seumayam (63 KK atau 238 jiwa), Ujong Krueng (115 KK atau 443 jiwa), Mon Dua (51 KK atau 153 jiwa), Neubok Yee PP (115 atau 472 jiwa), serta Neubok Yee PK (70 KK atau 210 jiwa).
Menurut Abdurrani, meski telah terkurung banjir, namun hingga kini ribuan masyarakat di wilayah itu belum mau mengungsi ke tempat lain yang lebih aman. Karena itu, pihaknya berusaha menerobos pemukiman warga menggunakan speed boat dengan cara menempuh jalur sungai. “Kami terus berupaya membantu masyarakat dan telah melaporkannya kepada pemerintah provinsi di Banda Aceh,” katanya.
Secara terpisah, Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini yang ditanyai Serambi, kemarin siang, mengaku banjir yang kerap melanda sebagian besar kawasan di wilayahnya akibat ulah penebang liar yang kerap menebang hutan di kawasan pegunungan. “Sepertinya Moratorium Logging (Jeda Tebang Hutan) yang diterapkan Pemerintah Aceh belum efektif,” katanya.
Masih terendam
Banjir yang sebelumnya juga melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Aceh Singkil, Kamis (31/3) kemarin, dilaporkan semakin meluas. Setidaknya sekitar 20 desa yang tersebar di Kecamatan Singkil, Singkil Utara, Simpang Kanan, Gunung Meriah, dan Suro, dilaporkan kini masih terendam banjir.
Banjir juga telah merusak sekitar 300 hektar sawah dalam berbagai usia, merendam fasilitas umum, jalan raya, masjid dan beberapa sekolah di Aceh Singkil terpaksa diliburkan. Banjir juga merendam kawasan pemukiman dan masuk ke rumah-rumah penduduk dengan ketinggian air 50-60 cm.
Banjir luapan Hujan deras yang mengguyur Kota Langsa sejak, Rabu (30/3) sore hingga, Kamis (31/3) dini hari, menyebabkan meluapnya Krueng Langsa. Akibat derasnya arus, tanggul penahan air di bantaran sungai setempat ambruk. Selain itu, sejumlah gampong di sekitar bantaran sungai juga ikut terendam.
Sementara itu, aktivitas mahasiswa di dua perguruan tinggi dilaporkan lumpuh total. Hal itu akibat jalan menuju kampus, di Gampong Meurandeh, Kecamatan Langsa Lama, terendam air setinggi satu meter.
Informasi yang dihimpun Serambi, Kamis (31/3), akibat arus deras dan tingginya volume air hujan yang diturunkan dari arah pegunungan Aceh Timur menuju Krueng Langsa, telah mengakibatkan satu titik tanggul penahan air yang berada di sekitar Gampong Sidorjo, Kecamatan Langsa Lama, jebol (pecah).
Mulai surut
Sementara itu dari Kabupaten Aceh Barat dilaporkan, musibah banjir yang melanda delapan kecamatan di wilayah itu, Kamis (31/3) kemarin, tampak mulai surut. Namun di beberapa kecamatan di kawasan pedalaman, masih terendam air dengan ketinggian air berkisar antara 50-100 cm dan tak terlalu mempengaruhi masyarakat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat HT Ahmad Dadek SH yang dikonfirmasi Serambi, mengaku sebagian besar kawasan di wilayah itu yang terkena banjir kini mulai surut. Bahkan sejumlah pengungsi yang sebelumnya terpaksa diungsikan dan dilakukan pembangunan dapur umum, juga telah kembali ke kediaman mereka.
Sementara itu, banjir yang melanda empat kecamatan di Aceh Jaya, telah menimbulkan kerusakan terhadap prasarana umum berupa satu unit jembatan berkontruksi kayu di Desa Gampong Baro, Kecamatan Setia, ambruk diterjang banjir pada Rabu (30/3).
Selain itu, seperti diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Jaya, Ir T Rusdi, sekitar 191 hektare sawah warga di Panga dan Krueng Sabee terendam banjir dan 11 hentare di antaranya dipastikan akan gagal panen (puso). “Kita akan laporkan masalah ini kepada pemerintah provinsi,” katanya kepada Serambi, di Calang, kemarin.
Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Jaya Zamzami A Rani, mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya memperbaiki berbagai sarana dan prasarana umum yang rusak itu, sehingga warga akan tetap dapat beraktifitas kembali. “Sejauh ini, kerusakan infrastuktur hanya satu unit jembatan, yang lainnya belum ada laporan,” katanya.(edi/c39/c42/is/c45)
Sumber : Serambinews.com
Fri, Apr 1st 2011, 11:45

Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3). SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3).
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Setelah menerjang delapan kecamatan di Kabupaten Aceh Barat, banjir yang disebabkan meluapnya sungai Krueng Tripa dan Krueng Lamie, kini merendam pula sejumlah kawasan di Nagan Raya. Akibatnya, sebanyak 1.069 kepala keluarga (KK) atau 4.056 jiwa warga 11 desa di kabupaten itu dilaporkan kini terkurung banjir.
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Nagan Raya, Drs Abdurrani Cut, mengatakan banjir luapan yang mengurung 4.056 warga di Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, akibat meluapnya dua sungai besar yakni Krueng Lamie dan Krueng Tripa. “Proses penyaluran bantuan untuk warga yang terkurung banjir itu, terpaksa kita lakukan dengan menggunakan speed boat,” katanya kepada Serambi, Kamis (31/3).
Dikatakan, 11 desa yang ikut terendam banjir luapan itu masing-masing Desa Pasi Keubeudom (124 KK atau 552 jiwa), Kabu (42 KK atau 126 jiwa), Lueng Keubeu Jagat (108 KK atau 386 jiwa), Drien Tujoh (135 KK/520 jiwa), Babah Lueng (208 KK atau 786 jiwa), Kuta Trieng (42 KK atau 170 jiwa), Kuala Seumayam (63 KK atau 238 jiwa), Ujong Krueng (115 KK atau 443 jiwa), Mon Dua (51 KK atau 153 jiwa), Neubok Yee PP (115 atau 472 jiwa), serta Neubok Yee PK (70 KK atau 210 jiwa).
Menurut Abdurrani, meski telah terkurung banjir, namun hingga kini ribuan masyarakat di wilayah itu belum mau mengungsi ke tempat lain yang lebih aman. Karena itu, pihaknya berusaha menerobos pemukiman warga menggunakan speed boat dengan cara menempuh jalur sungai. “Kami terus berupaya membantu masyarakat dan telah melaporkannya kepada pemerintah provinsi di Banda Aceh,” katanya.
Secara terpisah, Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini yang ditanyai Serambi, kemarin siang, mengaku banjir yang kerap melanda sebagian besar kawasan di wilayahnya akibat ulah penebang liar yang kerap menebang hutan di kawasan pegunungan. “Sepertinya Moratorium Logging (Jeda Tebang Hutan) yang diterapkan Pemerintah Aceh belum efektif,” katanya.
Masih terendam
Banjir yang sebelumnya juga melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Aceh Singkil, Kamis (31/3) kemarin, dilaporkan semakin meluas. Setidaknya sekitar 20 desa yang tersebar di Kecamatan Singkil, Singkil Utara, Simpang Kanan, Gunung Meriah, dan Suro, dilaporkan kini masih terendam banjir.
Banjir juga telah merusak sekitar 300 hektar sawah dalam berbagai usia, merendam fasilitas umum, jalan raya, masjid dan beberapa sekolah di Aceh Singkil terpaksa diliburkan. Banjir juga merendam kawasan pemukiman dan masuk ke rumah-rumah penduduk dengan ketinggian air 50-60 cm.
Banjir luapan Hujan deras yang mengguyur Kota Langsa sejak, Rabu (30/3) sore hingga, Kamis (31/3) dini hari, menyebabkan meluapnya Krueng Langsa. Akibat derasnya arus, tanggul penahan air di bantaran sungai setempat ambruk. Selain itu, sejumlah gampong di sekitar bantaran sungai juga ikut terendam.
Sementara itu, aktivitas mahasiswa di dua perguruan tinggi dilaporkan lumpuh total. Hal itu akibat jalan menuju kampus, di Gampong Meurandeh, Kecamatan Langsa Lama, terendam air setinggi satu meter.
Informasi yang dihimpun Serambi, Kamis (31/3), akibat arus deras dan tingginya volume air hujan yang diturunkan dari arah pegunungan Aceh Timur menuju Krueng Langsa, telah mengakibatkan satu titik tanggul penahan air yang berada di sekitar Gampong Sidorjo, Kecamatan Langsa Lama, jebol (pecah).
Mulai surut
Sementara itu dari Kabupaten Aceh Barat dilaporkan, musibah banjir yang melanda delapan kecamatan di wilayah itu, Kamis (31/3) kemarin, tampak mulai surut. Namun di beberapa kecamatan di kawasan pedalaman, masih terendam air dengan ketinggian air berkisar antara 50-100 cm dan tak terlalu mempengaruhi masyarakat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat HT Ahmad Dadek SH yang dikonfirmasi Serambi, mengaku sebagian besar kawasan di wilayah itu yang terkena banjir kini mulai surut. Bahkan sejumlah pengungsi yang sebelumnya terpaksa diungsikan dan dilakukan pembangunan dapur umum, juga telah kembali ke kediaman mereka.
Sementara itu, banjir yang melanda empat kecamatan di Aceh Jaya, telah menimbulkan kerusakan terhadap prasarana umum berupa satu unit jembatan berkontruksi kayu di Desa Gampong Baro, Kecamatan Setia, ambruk diterjang banjir pada Rabu (30/3).
Selain itu, seperti diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Jaya, Ir T Rusdi, sekitar 191 hektare sawah warga di Panga dan Krueng Sabee terendam banjir dan 11 hentare di antaranya dipastikan akan gagal panen (puso). “Kita akan laporkan masalah ini kepada pemerintah provinsi,” katanya kepada Serambi, di Calang, kemarin.
Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Jaya Zamzami A Rani, mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya memperbaiki berbagai sarana dan prasarana umum yang rusak itu, sehingga warga akan tetap dapat beraktifitas kembali. “Sejauh ini, kerusakan infrastuktur hanya satu unit jembatan, yang lainnya belum ada laporan,” katanya.(edi/c39/c42/is/c45)
Sumber : Serambinews.com
Kamis, 26 Mei 2011
Seluruh Kecamatan di Nagan belum Laksanakan Musrenbang
Wed, Mar 30th 2011, 08:49
JEURAM - Seluruh kecamatan di Kabupaten Nagan Raya dilaporkan hingga sekarang belum melaksanakan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di tingkat kecamatan yang sebelumnya telah disepakati untuk dilaksanakan pada 26 Februari dan 26 Maret Tahun 2011. Dampaknya, Nagan Raya akan batal mengikuti kegiatan Musrenbang di tingkat Provinsi Aceh yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, karena belum mempunyai program atau kegiatan yang akan diusulkan.
Informasi yang diperoleh Serambi, baik pada 26 Februari maupun 26 Meret lalu, seluruh kepada desa di delapan kecamatan di Nagan Raya telah datang ke kantor camat masing-masing memenuhi undangan camat setempat untuk ikut Musrenbang tingkat kecamatan. Akan tetapi, ternyata Musrenbang gagal dilaksanakan, sehingga para keuchik harus kembali pulang.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Kabupaten Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan SH kepada Serambi, Selasa (29/3) mengatakan, akibat dibatalkannya pelaksanaan Musrenbang pada kedua tanggal tersebut telah menyebabkan terbengkalainya perencanaan pembangunan tahun 2012 mendatang.
Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, kata Keumangan, Kabupaten Nagan Raya juga akan batal mengikuti kegiatan Musrenbang di tingkat Provinsi Aceh yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Mengingat Kabupaten Nagan Raya belum mempunyai program atau kegiatan yang akan diusulkan karena tidak adanya Musrenbang di tingkat kecamatan.
Terkait pembatalan Musrenbang oleh para camat tersebut, Kepala Bappeda Nagan Raya mengaku telah melaporkan kepada Meneg PPN/Kepala Bappenas Pusat di Jakarta, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini, serta pihak DPRK setempat. Sehingga bisa dilakukan penanganan sedini mungkin guna menyelamatkan rencana pembangunan di wilayah itu dalam tahun 2012 mendatang.
Segera dilakukan
Secara terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Nagan Raya, Drs HT Zamzami TS MM yang dikonfirmasi Serambi, petang kemarin mengaku pihaknya kini sedang merancang jadwal pelaksanaan ulang Musrenbang tingkat kecamatan maupun kabupaten di wilayah itu, guna dilakukan musyawarah bersama terkait rencana pembangunan di wilayah itu. Namun ia mengaku belum bisa memastikannya kapan akan dilakukan, karena harus melakukan rapat terlebih dahulu dengan intansi terkait.
Terhadap pembatalan Musrenbang oleh seluruh kecamatan di wilayah itu, Sekda T Zamzami mengaku pembatalan tersebut terjadi dikarenakan saat jadwal berlangsung, kegiatan para camat beradu dengan kegiatan di kabupaten sehingga kegiatan itu tak bisa dilaksanakan.(edi)
Sumber : Serambinews.com
JEURAM - Seluruh kecamatan di Kabupaten Nagan Raya dilaporkan hingga sekarang belum melaksanakan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di tingkat kecamatan yang sebelumnya telah disepakati untuk dilaksanakan pada 26 Februari dan 26 Maret Tahun 2011. Dampaknya, Nagan Raya akan batal mengikuti kegiatan Musrenbang di tingkat Provinsi Aceh yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, karena belum mempunyai program atau kegiatan yang akan diusulkan.
Informasi yang diperoleh Serambi, baik pada 26 Februari maupun 26 Meret lalu, seluruh kepada desa di delapan kecamatan di Nagan Raya telah datang ke kantor camat masing-masing memenuhi undangan camat setempat untuk ikut Musrenbang tingkat kecamatan. Akan tetapi, ternyata Musrenbang gagal dilaksanakan, sehingga para keuchik harus kembali pulang.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Kabupaten Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan SH kepada Serambi, Selasa (29/3) mengatakan, akibat dibatalkannya pelaksanaan Musrenbang pada kedua tanggal tersebut telah menyebabkan terbengkalainya perencanaan pembangunan tahun 2012 mendatang.
Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, kata Keumangan, Kabupaten Nagan Raya juga akan batal mengikuti kegiatan Musrenbang di tingkat Provinsi Aceh yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Mengingat Kabupaten Nagan Raya belum mempunyai program atau kegiatan yang akan diusulkan karena tidak adanya Musrenbang di tingkat kecamatan.
Terkait pembatalan Musrenbang oleh para camat tersebut, Kepala Bappeda Nagan Raya mengaku telah melaporkan kepada Meneg PPN/Kepala Bappenas Pusat di Jakarta, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini, serta pihak DPRK setempat. Sehingga bisa dilakukan penanganan sedini mungkin guna menyelamatkan rencana pembangunan di wilayah itu dalam tahun 2012 mendatang.
Segera dilakukan
Secara terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Nagan Raya, Drs HT Zamzami TS MM yang dikonfirmasi Serambi, petang kemarin mengaku pihaknya kini sedang merancang jadwal pelaksanaan ulang Musrenbang tingkat kecamatan maupun kabupaten di wilayah itu, guna dilakukan musyawarah bersama terkait rencana pembangunan di wilayah itu. Namun ia mengaku belum bisa memastikannya kapan akan dilakukan, karena harus melakukan rapat terlebih dahulu dengan intansi terkait.
Terhadap pembatalan Musrenbang oleh seluruh kecamatan di wilayah itu, Sekda T Zamzami mengaku pembatalan tersebut terjadi dikarenakan saat jadwal berlangsung, kegiatan para camat beradu dengan kegiatan di kabupaten sehingga kegiatan itu tak bisa dilaksanakan.(edi)
Sumber : Serambinews.com
Langganan:
Postingan (Atom)