Senin, 06 Juni 2011

Pemkab Nagan Gelar Musrenbang

Tue, Apr 5th 2011, 08:53

JEURAM-Setelah dua kali tertunda, Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Senin (4/4) kemarin melaksanakan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yang dihadiri puluhan peserta yang berasal dari unsur SKPK, DPRK, Camat, serta berbagai unsur lainnya berlangsung di aula Bappeda setempat.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan SH dalam sambutannya mengatakan tujuan pelaksanaan Musrenbang itu untuk mendapatkan masukan terhadap penyempurnaan rancangan awal kerja pemerintah daerah yang memuat prioritas pembangunan daerah, penentuan alokasi anggaran, serta pemutakhiran data dan informasi terhadap kegiatannya yang bersumber pada ABPA, APBN, serta pendapatan lainnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Nagan Raya, M Kasem Ibrahim Bsc saat membuka kegiatan dimaksud berharap kepada seluruh pihak, supaya dalam menentukan arah prioritas pembangunan tetap mengacu ke arah yang lebih menyetuh kepentingan masyarakat banyak, sekaligus mampu memprioritaskan yang terbaik sesuai dengan usulan yang ada. (edi)

Sumber : Serambinews.com

Minggu, 05 Juni 2011

Longsor di Lintas Jeuram-Takengon Masih Mengancam

* Angkutan Umum belum Berani Lewat
Sat, Apr 2nd 2011, 11:12

JEURAM - Ruas jalan provinsi di lintas Jeuram (Nagan Raya)-Takengon (Aceh Tengah), tepatnya di kawasan pegunungan Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, sejak Kamis sore hingga Jumat (1/4) kemarin telah bisa dilintasi. Sebelumnya, kawasan pegunungan ini dilanda longsor yang menutup badan jalan sepanjang 10 meter, sehingga arus transportasi lumpuh.

Namun, meski longsor sudah berhasil ditangani, hingga kini ruas jalan alternatif itu masih rawan longsor dan batuan gunung kerap berjatuhan, sehingga warga diminta ekstrahati-hati saat melintas. “Jika diguyur hujan, maka tidak tertutup kemungkinan kawasan itu akan kembali longsor,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Bina Marga dan Pekerjaan Umum Kabupaten Nagan Raya, Teuku Nahrensyah menjawab Serambi, Jumat (1/4) kemarin.

Secara umum, menurutnya, kawasan itu sudah bisa dilintasi kembali setelah pemkab setempat menurunkan sejumlah alat berat untuk mengeruk material longsor pascakejadian, Selasa (29/3) malam. Namun, apabila terus dibiarkan seperti keadaan sekarang ini, tanpa adanya penanganan apa pun dari pihak provinsi, maka musibah longsor berpeluang terjadi lagi.

Oleh karena itu, Nahrensyah meminta kepada Pemerintah Aceh untuk segera menangani lintasan Jeuram-Takengon, khususnya di kawasan Pegunungan Singgah Mata, sehingga longsor yang memacetkan arus lalu lintas tidak terulang kembali.

Takut melintas
Secara terpisah, si Am, petugas loket CV Abdya Perdana yang ditemui Serambi di Terminal Bus Meulaboh kemarin mengatakan, sejauh ini armada CV Abdya Perdana masih menggunakan jalur Geumpang untuk menuju Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Ia beralasan, belum dilintasinya ruas jalan provinsi di lintasan Jeuram-Takengon itu disebabkan awak angkutan masih khawatir dengan ancaman longsor susulan. “Tapi, kalau sudah normal, kita tetap akan melintasinya kembali,” kata Am.

Meski terjadi pengalihan rute perjalanan via Geumpang, menurut Am, pihaknya tidak menaikkan tarif. “Saat ini kami masih menggunakan tarif lama, yakni Rp 150 ribu/penumpang. Soalnya, sejauh ini angkutan dari dan ke wilayah Dataran Tinggi Gayo itu penumpangnya selalu penuh,” ujar Am. (edi)

sumber : Serambinews.com

Rabu, 01 Juni 2011

Banjir Luapan Rendam Nagan

* 4.056 Warga Terkurung, Distribusi Bantuan dengan Speed Boat
Fri, Apr 1st 2011, 11:45


Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3). SERAMBI/DEDI ISKANDAR

Ruang belajar di Sekolah Dasar (SD) Gampong Napai, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, ambruk diterjang banjir yang terjadi Selasa (29/3) malam lalu. Foto direkam Kamis (30/3).
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
JEURAM - Setelah menerjang delapan kecamatan di Kabupaten Aceh Barat, banjir yang disebabkan meluapnya sungai Krueng Tripa dan Krueng Lamie, kini merendam pula sejumlah kawasan di Nagan Raya. Akibatnya, sebanyak 1.069 kepala keluarga (KK) atau 4.056 jiwa warga 11 desa di kabupaten itu dilaporkan kini terkurung banjir.

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Nagan Raya, Drs Abdurrani Cut, mengatakan banjir luapan yang mengurung 4.056 warga di Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, akibat meluapnya dua sungai besar yakni Krueng Lamie dan Krueng Tripa. “Proses penyaluran bantuan untuk warga yang terkurung banjir itu, terpaksa kita lakukan dengan menggunakan speed boat,” katanya kepada Serambi, Kamis (31/3).

Dikatakan, 11 desa yang ikut terendam banjir luapan itu masing-masing Desa Pasi Keubeudom (124 KK atau 552 jiwa), Kabu (42 KK atau 126 jiwa), Lueng Keubeu Jagat (108 KK atau 386 jiwa), Drien Tujoh (135 KK/520 jiwa), Babah Lueng (208 KK atau 786 jiwa), Kuta Trieng (42 KK atau 170 jiwa), Kuala Seumayam (63 KK atau 238 jiwa), Ujong Krueng (115 KK atau 443 jiwa), Mon Dua (51 KK atau 153 jiwa), Neubok Yee PP (115 atau 472 jiwa), serta Neubok Yee PK (70 KK atau 210 jiwa).

Menurut Abdurrani, meski telah terkurung banjir, namun hingga kini ribuan masyarakat di wilayah itu belum mau mengungsi ke tempat lain yang lebih aman. Karena itu, pihaknya berusaha menerobos pemukiman warga menggunakan speed boat dengan cara menempuh jalur sungai. “Kami terus berupaya membantu masyarakat dan telah melaporkannya kepada pemerintah provinsi di Banda Aceh,” katanya.

Secara terpisah, Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini yang ditanyai Serambi, kemarin siang, mengaku banjir yang kerap melanda sebagian besar kawasan di wilayahnya akibat ulah penebang liar yang kerap menebang hutan di kawasan pegunungan. “Sepertinya Moratorium Logging (Jeda Tebang Hutan) yang diterapkan Pemerintah Aceh belum efektif,” katanya.

Masih terendam
Banjir yang sebelumnya juga melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Aceh Singkil, Kamis (31/3) kemarin, dilaporkan semakin meluas. Setidaknya sekitar 20 desa yang tersebar di Kecamatan Singkil, Singkil Utara, Simpang Kanan, Gunung Meriah, dan Suro, dilaporkan kini masih terendam banjir.

Banjir juga telah merusak sekitar 300 hektar sawah dalam berbagai usia, merendam fasilitas umum, jalan raya, masjid dan beberapa sekolah di Aceh Singkil terpaksa diliburkan. Banjir juga merendam kawasan pemukiman dan masuk ke rumah-rumah penduduk dengan ketinggian air 50-60 cm.

Banjir luapan Hujan deras yang mengguyur Kota Langsa sejak, Rabu (30/3) sore hingga, Kamis (31/3) dini hari, menyebabkan meluapnya Krueng Langsa. Akibat derasnya arus, tanggul penahan air di bantaran sungai setempat ambruk. Selain itu, sejumlah gampong di sekitar bantaran sungai juga ikut terendam.

Sementara itu, aktivitas mahasiswa di dua perguruan tinggi dilaporkan lumpuh total. Hal itu akibat jalan menuju kampus, di Gampong Meurandeh, Kecamatan Langsa Lama, terendam air setinggi satu meter.

Informasi yang dihimpun Serambi, Kamis (31/3), akibat arus deras dan tingginya volume air hujan yang diturunkan dari arah pegunungan Aceh Timur menuju Krueng Langsa, telah mengakibatkan satu titik tanggul penahan air yang berada di sekitar Gampong Sidorjo, Kecamatan Langsa Lama, jebol (pecah).

Mulai surut
Sementara itu dari Kabupaten Aceh Barat dilaporkan, musibah banjir yang melanda delapan kecamatan di wilayah itu, Kamis (31/3) kemarin, tampak mulai surut. Namun di beberapa kecamatan di kawasan pedalaman, masih terendam air dengan ketinggian air berkisar antara 50-100 cm dan tak terlalu mempengaruhi masyarakat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat HT Ahmad Dadek SH yang dikonfirmasi Serambi, mengaku sebagian besar kawasan di wilayah itu yang terkena banjir kini mulai surut. Bahkan sejumlah pengungsi yang sebelumnya terpaksa diungsikan dan dilakukan pembangunan dapur umum, juga telah kembali ke kediaman mereka.

Sementara itu, banjir yang melanda empat kecamatan di Aceh Jaya, telah menimbulkan kerusakan terhadap prasarana umum berupa satu unit jembatan berkontruksi kayu di Desa Gampong Baro, Kecamatan Setia, ambruk diterjang banjir pada Rabu (30/3).

Selain itu, seperti diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Jaya, Ir T Rusdi, sekitar 191 hektare sawah warga di Panga dan Krueng Sabee terendam banjir dan 11 hentare di antaranya dipastikan akan gagal panen (puso). “Kita akan laporkan masalah ini kepada pemerintah provinsi,” katanya kepada Serambi, di Calang, kemarin.

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Jaya Zamzami A Rani, mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya memperbaiki berbagai sarana dan prasarana umum yang rusak itu, sehingga warga akan tetap dapat beraktifitas kembali. “Sejauh ini, kerusakan infrastuktur hanya satu unit jembatan, yang lainnya belum ada laporan,” katanya.(edi/c39/c42/is/c45)

Sumber : Serambinews.com

Kamis, 26 Mei 2011

Seluruh Kecamatan di Nagan belum Laksanakan Musrenbang

Wed, Mar 30th 2011, 08:49

JEURAM - Seluruh kecamatan di Kabupaten Nagan Raya dilaporkan hingga sekarang belum melaksanakan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di tingkat kecamatan yang sebelumnya telah disepakati untuk dilaksanakan pada 26 Februari dan 26 Maret Tahun 2011. Dampaknya, Nagan Raya akan batal mengikuti kegiatan Musrenbang di tingkat Provinsi Aceh yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, karena belum mempunyai program atau kegiatan yang akan diusulkan.

Informasi yang diperoleh Serambi, baik pada 26 Februari maupun 26 Meret lalu, seluruh kepada desa di delapan kecamatan di Nagan Raya telah datang ke kantor camat masing-masing memenuhi undangan camat setempat untuk ikut Musrenbang tingkat kecamatan. Akan tetapi, ternyata Musrenbang gagal dilaksanakan, sehingga para keuchik harus kembali pulang.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Kabupaten Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan SH kepada Serambi, Selasa (29/3) mengatakan, akibat dibatalkannya pelaksanaan Musrenbang pada kedua tanggal tersebut telah menyebabkan terbengkalainya perencanaan pembangunan tahun 2012 mendatang.

Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, kata Keumangan, Kabupaten Nagan Raya juga akan batal mengikuti kegiatan Musrenbang di tingkat Provinsi Aceh yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Mengingat Kabupaten Nagan Raya belum mempunyai program atau kegiatan yang akan diusulkan karena tidak adanya Musrenbang di tingkat kecamatan.

Terkait pembatalan Musrenbang oleh para camat tersebut, Kepala Bappeda Nagan Raya mengaku telah melaporkan kepada Meneg PPN/Kepala Bappenas Pusat di Jakarta, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini, serta pihak DPRK setempat. Sehingga bisa dilakukan penanganan sedini mungkin guna menyelamatkan rencana pembangunan di wilayah itu dalam tahun 2012 mendatang.

Segera dilakukan
Secara terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Nagan Raya, Drs HT Zamzami TS MM yang dikonfirmasi Serambi, petang kemarin mengaku pihaknya kini sedang merancang jadwal pelaksanaan ulang Musrenbang tingkat kecamatan maupun kabupaten di wilayah itu, guna dilakukan musyawarah bersama terkait rencana pembangunan di wilayah itu. Namun ia mengaku belum bisa memastikannya kapan akan dilakukan, karena harus melakukan rapat terlebih dahulu dengan intansi terkait.

Terhadap pembatalan Musrenbang oleh seluruh kecamatan di wilayah itu, Sekda T Zamzami mengaku pembatalan tersebut terjadi dikarenakan saat jadwal berlangsung, kegiatan para camat beradu dengan kegiatan di kabupaten sehingga kegiatan itu tak bisa dilaksanakan.(edi)

Sumber : Serambinews.com

Kamis, 19 Mei 2011

Dua Warga Nagan Diserang Malaria

Tue, Mar 29th 2011, 09:03

JEURAM-Amren, warga Alue Ie Mameh, Kecamatan Kuala, dan Cut Rohani, warga Kuta Kumbang, Kabupaten Nagan Raya sejak dua hari terakhir dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat akibat diserang malaria. Sementara itu, Senin (28/3) Asmadi, warga Desa Kuta Kumbang, Kecamatan Seunagan, dirawat di ruang ICCU di rumah sakit akibat serangan Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kepala RSUD Nagan Raya, dr Hasbi Quraisy yang dikonfirmasi Serambi , Senin kemarin membenarkan adanya ketiga warga setempat yang dirawat akibat diserang penyakit malaria dan demam berdarah. Namun seorang di antara pasiennya itu, yakni Asmadi, terpaksa dirawat di ruang ICCU dikarenakan kondisinya yang sangat parah dan tergolong kritis akibat terjangan demam berdarah.

Menurut dr Hasbi, pihaknya selaku tim medis hanya bisa memberikan penanganan dan perawatan kepada pasien yang dirawat, sedangkan penanganan dan pencegahan itu merupakan kewenangan intansi terkait. “Kondisi ketiga pasien ini masih parah dan harus terus dirawat, karena ketiganya positif diserang malaria dan demam berdarah,” tukasnya.

Ati, seorang anggota keluarga korban penyakit Malaria kepada Serambi, kemarin mengatakan serangan malaria dan demam berdarah di wilayah itu sebenarnya telah lama terjadi. Akan tetapi hingga kini, sama sekali tak ada penanganan dari pihak Dinas Kesehatan setempat guna melakukan pencegahan maupun penanganan lainnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya, Tien Saniatin yang berusaha dikonfirmasi Serambi, hingga berita ini ditulis sore kemarin sekitar pukul 15.32 WIB tak berhasil ditemui guna dimintai tanggapannya.(edi)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 04 Mei 2011

Pembangunan Jembatan Alue Waki Dilaporkan ke Kapolda

Thu, Mar 24th 2011, 09:08
* Kapolres Nagan Raya: Tim Kita Sudah Turun

JEURAM - Masyarakat Desa Alue Waki, Kemukiman Gunong Kong, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Rabu (23/3), resmi melaporkan kasus pembangunan jembatang rangka baja yang dilaksanakan pihak rekanan di kawasan pedalaman tersebut kepada Kapolda Aceh, Irjen Pol Iskandar Hasan.

Pasalnya, pembangunan proyek miliaran rupiah menggunakan dana APBA tahun 2010 di bawah pengelolaan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) itu dinilai sarat rekayasa dan tak sesuai dengan spesifikasi, sehingga jembatan penghubung yang sangat dibutuhkan warga itu kini telah miring dan nyaris ambruk ke sungai.

Dalam surat yang ditandatangani Keuchik Gampong Alue Waki, Raja Sati dan pelapor TR Wandi, yang tembusannya diterima Serambi, Rabu (23/3) menyebutkan, proyek lanjutan pembangunan jembatan rangka baja di kawasan pedalaman tersebut sangat meresahkan masyarakat setempat. Pasalnya, secara kasat mata jembatan tersebut sangat tak layak, serta janggal. Tiang jembatan telah miring, bahkan di sejumlah titik jembatan, juga tak dipasang baut serta berbagai kebutuhan lainnya.

Bahkan, tulis Raja Sati dan TR Wandi, sebelum hal itu dilaporkan kepada aparat kepolisian, sekitar dua pekan lalu, pihaknya telah mempertanyakan kepada pihak rekanan mengapa hal itu bisa terjadi. Akan tetapi keluhan warga tak ditanggapi sehingga sempat terjadinya hal-hal yang tak diinginkan antara masyarakat Gunong Kong dengan pihak rekanan pelaksana pembangunan.

Apalagi di lokasi proyek tersebut, tulis mereka, sama sekali tak terdapat papan nama proyek sehingga pembangunan jembatan itu tak bisa diakses oleh masyarakat apakah telah sesuai ataupun belum. Apalagi proyek tersebut telah lama dikerjakan sejak tahun 2010 lalu dan hingga kini belum rampung.

“Karena kami ingin kejelasan, makanya kasus ini kami laporkan ke Kapolda Aceh supaya segera diturunkan tim, guna mengetahui apakah pembangunan jembatan ini telah sesuai ataupun belum sekaligus dilakukan penyelidikan,” katanya.

Turunkan tim
Secara terpisah, Kapolres Nagan Raya AKBP Drs Ari Soebijanto yang dikonfirmasi Serambi, kemarin mengaku telah mendapatkan surat laporan yang dikirimkan masyarakat dan Keuchik Alue Waki, Kecamatan Darul Makmur, terkait pembangunan jembatan rangka baja di wilayah pedalaman tersebut.

Kapolres mengatakan, untuk menindaklanjuti keluhan dan laporan warga itu, ia telah menurunkan tim polisi ke lapangan guna memastikan laporan masyarakat, sehingga pihaknya bisa melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut. “Kalau nantinya dalam proyek ini terdapat pelanggaran hukum, tetap kita tindak sesuai dengan undang-undang, karena penyelidikan yang dilakukan polisi ini berdasarkan laporan warga,” katanya.

Di sisi lain, Kapolres Ari Soebijanto mengakui bahwa secara teknis yang lebih paham terhadap konstruksi jembatan adalah instansi terkait. Pihaknya berupaya melakukan koordinasi dengan lembaga dimaksud apakah laporan pembangunan jembatan itu bermasalah ataupun tidak.(edi)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 03 Mei 2011

Sekdakab Nagan Raya : Selesaikan Sengketa Tanah secara Musyawarah

Mon, Mar 21st 2011, 08:22

JEURAM - Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Nagan Raya, Drs HT Zamzami TS MM, meminta kepada seluruh masyarakat di daerah itu agar menuntaskan persoalan sengketa tanah yang kini mulai marak, melalui jalur musyawarah dengan melibatkan aparatur gampong, tanpa harus melakukan berbagai tindakan pelanggaran hukum.

“Apabila masalah tanah ini tak bisa diselesaikan di tingkat desa, mukim atau kecamatan, barulah dibawa ke tingkat kabupaten. Dan kami selaku pemerintah mengimbau kepada seluruh masyarakat supaya masalah ini diselesaikan secara kepala dingin tanpa adanya konflik internal,” kata HT Zamzami kepada Serambi, Minggu (20/3).

Apalagi, tambah Zamzami, selama ini persoalan sengketa tanah antara masyarakat dengan pihak perusahaan, serta antarwarga sendiri semakin sering terjadi di Nagan Raya. Karenanya, ia meminta supaya dalam menyelesaikan persoalan itu lebih baik menggunakan aparatur desa dan pemerintahan di kecamatan, sehingga semua masalah yang terjadi bisa ditangani dengan baik.(edi)

Sumber : Serambinews.com